CATATAN WORKSHOP DI CAHAYA ALQURAN – MENDONGENG dapat membentuk KARAKTER ANAK

Mendongeng, tidak boleh diremehkan. Jika materinya tepat, bisa jadi itu menjadi sarana untuk membentuk  karakter anak. Demikian dikatakan Kak Hadian Maryadi, Direktur Rumah Dongeng Surabaya .

Maka, guru tidak boleh salah dalam menyampaikan pesan maka anak akan terwanai pikiran dan jiwanya. Begitu juga tentang kata-kata yang dipakai harus benar, karena hal itu menambah kosakata pada anak. “Kalau guru menyelipkan kata salah ,maka anak akan ketambahan kosakata baru yang salah,” jelasnya .

Konsultan KB/TK Cahaya Al Quran dan pendongeng di TV 9 ini pada Hardiknas 2015 menyampaikan pentingnya mendongeng terhadap para guru KB/TK/RA dan guru SD kelas I dan II se Kab. Lumajang di Aula TK Cahaya Al Quran, Jln Diponegoro No. 80 Lumajang. Hadir sebagai pembicara pertama adalah Pak Teguh Wahyu Utomo, dosen yang juga trainer Menebar Energi Positip (MEP).

Dalam kesempatan tersebut Pak Tomo menyampaikan pentingnya mendongeng bagi guru. Mendongeng, kata Pak Tom banyak manfaatnya bagi siswa atau anak TK. Antara lain menghibur, membantu proses relaksasi, membantu terapi masalah tertentu, membantu perkembangan mental. Mendongeng bisa menyentuh seluruh kepentingan panca indra, tegasnya.

Kegiatan worskshop mendongeng begitu menarik bagi 100 guru KB/TK/RA dan SD/MIM se Kab. Lumajang. Mereka berharap kegiatan serupa diadakan kembali karena sangat penting bagi guru. Dengan mendongeng anak semakin tertarik pada guru dan materi yang disampaikan.

Workshop diadakan atas kerjasama Pimpinan Daerah Aisyah, PDM dan Cahaya AL Quran. Hal ini dilaksanakan agar para guru menambah wawasan baru dalam mendongeng. Dengan demikian mereka memiliki kemampuan kompetitif, kata ketua PDA, Kab. Lumajang, Lilik Nurdiani ,S.Pd, M.P. (*/sakinah)

 

Sumber : Majalah Penyejuk Jiwa SAKINAH Bacaan Keluarga Muslim Indonesia Edisi 18 Juni 2015

Posting : Chindy Vionariska, A.Md

WISATA BUDAYA BACA YOGYAKARTA

Komunitas membaca yang menyediakan beragam ruang/tempat dan bahan bacaan, hadir semakin marak di berbagai daerah. Termasuk Yogyakarta, sebagai kota budaya dan kota pendikan. Kehadiran taman bacaan masyarakat (TBM) dan perpustakaan-perpustakaan komunitas seolah menjawab kegelisahan masyarakat pencinta baca yang selama ini dinilai rendah minat baca.

Nama-nama yang hadir semakin beragam dan menarik seperti Sudut Baca, Cafe Baca, Taman Bacaan, Stasiun Buku, Rumah Buku, Sanggar Baca, Pondok Baca yang semua mengacu pada wadah Taman Bacaan Masyarakat (TBM) versi Direktorat Pendidikan Masyarakat (Dikmas) Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Atau perpustakaan Khusus (Privat library) versi Perpustakaan Nasional (Perpusnas).

Saat ini ada berbagai kelompok yang giat berkontribusi mendorong “minat baca” masyarakat : seperti Diskusi Sastra, Sanggar bermain dan belajar, komunitas penggiat industri perbukuan, klub perfilman, klub menulis, toko buku komunitas, komunitas aneka hobi, paguyuban para pensiunan, mahasiswa pencinta sastra, sampai penganut mode/fashion tertentu. Sajiannya pun semakin beragam dan mengikuti trend dengan menyandingkan kegiatan membaca dengan gaya hidup (life style), dan isu-isu terhangat.

Sangat disayangkan gema keberadaan taman-taman bacaan ini masih terbatas pada komunitasnya sendiri. Padahal keberadaannnya taman bacaan menjadi ini menjadi salah satu solusi masyarakat untuk mengakses pengetahuan dan pendidikan secara mandiri. Karena fungsi taman bacaan seperti halnya perpustakaan pada dasarnya adalah sebagai tempat edukasi, rekreasi, informasi dan sosialisasi. Dan tentu saja taman bacaan / perpustakaan ini memiliki fungsi sebagai tempat penyimpanan aneka budaya manusia lewat tulisan.

Latar belakang para penggiat minat baca di TBM/perpustakaan sangat beragam dan mewarnai tampilan taman bacaan yang dikelolanya. Sebagai tempat yang menawarkan membaca yang asyik, keberagaman tampilan dan sajian ini tentunya sangat menguntungkan masyarakat pecinta baca. Wanita yang menjadi penggiat taman baca/perpustakaan juga tidak sedikit. Hal ini kemungkinan karena wanita memiliki ketekunan dan memiliki naluri untuk menjadi penyebar pengetahuan.

Atas dasar fakta-fakta di atas, dalam rangka memaknai Hari Kartini, 21 April, Hari Buku sedunia (World Book day) tanggal 23 April dan peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei, penulis bersama penggiat taman bacaan perempuan Jawa Barat Santi Susilawati menjelajah Yogyakarta. Pemilihan DIY sebagai tujuan wisata taman baca ini karena DIY merupakan salah satu kota pendidikan dan pusat budaya yang kaya komunitas baca. Keterbatasan waktu membuat tulisan ini hanya menjadikan 3 (tiga) tempat membaca yang disinggahi yang kesemua dinahkhodai para wanita luar biasa. Ketiga nya memiliki segmen beragam dan kekhasan masing-masing sesuai latar belakang pengelola.

T

TBM CAKRUK PINTAR

Taman baca masyarakat (TBM) Cakruk Pintar adalah taman baca yang memadukan konsep “cakruk”  dengan “taman baca”. Sehingga memiliki keunikan tersendiri. Selain itu, TBM ini juga mempunyai kekayaan alam yang masih asri dan alami, sehingga TBM ini sangat ramah lingkungan dan memasyarakat. Demikian tertulis pada leaflet yang diterima penulis saat mengunjungi TBM yang terletak di desa Caturtunggal Nologaten Yogyakarta dibawah kepemimpinan Rumi Astuti S.Pd.

Diluar standar umum pelayanan taman bacaan membaca, meminjam dan mengembalikan buku, Cakruk Pintar memiliki puluhan kegiatan lain sebagai penunjang, diantaranya : launching buku baru, bedah buku, simaan Al Quran, diskusi, keterampilan berbasis buku dan kegiatan lain yang menunjang motivasi masyarakat untuk membaca.

Cakruk pintar berdiri sejak tahun 2004 di bawah naungan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Suka Catur Tunggal. Cakruk sendiri menunjukan tempat berkumpul atau nongkrong. Pengelola berharap dengan nongkrong mencari ilmu di tempat ini diharapkan masyarakat cerdas, pintar dan berdaya. Untuk menghidupi taman bacaan sendiri (yang memang digratiskan) TBM Cakruk pintar memiliki usaha lain di depan TBM dan usaha budi daya ikan di bagian bawah dan belakang TBM.

Saat ini ada usaha baru yang berkenaan dengan budaya baca di Cakruk Pintar yakni; Wisata literasi yang dipandu langsung oleh Pembina TBM Cakruk Pintar DR Muhsin Kalida. Tujuan utama wisata taman bacaan ini, sementara ke negeri jiran Malaysia. Secara berkala masyarakat pecinta taman baca yang membutuhkan penyegaraan di ajak menimba ilmu tentang penulisan dan perbukuan sambil berwisata. Untuk progam ini tentu saja dikenakan biaya tertarik? Silahkan hubungi pengelola.

Perpustakaan  EAN

Perpustakaan yang sangat kental dengan kajian budaya. Tidak mengherankan karena dari nama sendiri sudah mengacu pada tokoh sentralnya yaitu budaya nasional Emha Ainun Nadjib (EAN). Perpustakaan ini soft  openingnya dimeriahkan berbagai diskusi budaya tanggal 7-9 April 2013 lalu. Hingga saat ini konsisten menjadikan diskusi  buku koleksi perpustakaan  EAN sebagai unggulan program. Kehadiran para sastrawan, seniman, budayawan dan tokoh besar dalam dan luar negeri juga menjadi pada acara-acara EAN terutama kalangan mahasiswa.

“Hal lain yang menjadikan EAN berbeda dari perpustakaan lain adalah pentas seni islami” demikian dikatakan oleh Nadlroh as Sariroh ( Nadlotussariroh) pengurus EAN.

Kekayaan pustaka EAN memiliki kekhasan yang sulit ditiru perpustakaan lain adalah terkumpulnya berbagai dokumen cetak sejak tahun 1970-an. Bukan hanya buku atau artefak lain tetapi juga tiket-tiket bis yang menggambarkan perjalanan literasi penggagasnya disamping terkumpulnya lebih dari 2500 judul buku berkualitas dalam dan luar negeri.

MATA  AKSARA

Heni Wardatur Rohmah (penulis biasa memanggilnya Heni WR), 38 thn. Wanita aktif istri pengusaha muda Nuradi Indra Wijaya ini memutuskan mengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Mata Aksara sepenuh hati setelah memilih mengundurkan diri sebagai tenaga administrasi Pasca Sarjana UGM. Bukan pilihan yang gampang memang, mengingat dunia bacaan bukanlah lahan bisnis tapi bentuk kegiatan sosial bagi lingkungan.

Kerja keras Heni WR menjadikan Mata Aksara, taman bacaan yang terletak di jl. Kaliurang Km 14 Tegalmanding Ngemplak DIY ini menjadi salah satu rujukan para pengelola TBM tanah air yang melakukan studi banding ke kota budaya Yogyakarta. Pengalaman kerja Heni WR di dunia kampus, juga menjadikan Mata Aksara menjadi tempat riset (penelitian) bagi mahasiswa yang menyusun skripsi maupun thesis dari berbagai kampus di Yogyakarta.

Apa yang bisa kita dapat di Mata Aksara ? Banyak hal : mulai keterampilan berbasis buku, pagelaran seni daerah, diskusi, dan lain-lain.” Apa yang loe mau gue bisa sediakan” kata pemenang Apresiasi PTK PAUDNI IY 2012 itu. Prestasi lain yang diraih Mata Aksara adalah TBM Kreatif 2012 versi Kemendikbud dan Anugrah Pustaka Bhakti dari badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD)  DIY 2012

Menjelajah taman bacaan di Yogyakarta menambah keyakinan kota ini istimewa dalam hal budaya, termasuk budaya bacanya. Tak berlebihan jika masyarakat Indonesia masih menjadikan Yogya sebagai tujuan belajar bagi putri-putrinya. Karena banyaknya perguruan tinggi disini ditunjang dengan tersebarnya taman-taman bacaan serta perpustakaan berkualitas yang dapat diakses warga hampir tanpa biaya. Jika fasilitas telah tersedia, masihkah menggelorakan minat baca kepada masyarakat ini sebuah kesulitan? Tugas kita bersama mengkampanyekan gemar membaca pada masyarakat.***.

Sumber : Majalah Penyejuk Jiwa SAKINAH Bacaan Keluarga Muslim Indonesia Edisi 18 Juni 2015

Posting : Chindy Vionariska, A.Md

KRATON, POTRET DESA POTENSIAL

Kraton, terletak di Kecamatan Yosowilangun Kabupaten Lumajang. Ia termasuk salah satu desa potensial. Ini terlihat dari beberapa hal. Semua jalan yang ada di desa ini sudah beraspal. Rumah-rumah penduduk tertata rapi dan warga masyarakat terlihat sangat peduli terhadap lingkungannya. Terbukti dengan kondisi lingkungan yang selalu bersih dan sehat. Untuk mengetahui kondisi desa ini, wartawan Majalah Sakinah, Z. Abidin menurunkan laporannya untuk pembaca.

Dilihat dari sisi ekonomi, masyarakat yang tinggal sekitar 25 Km arah selatan Kota Lumajang ini terlihat cukup mapan. Dapat dilihat dari kondisi rumah-rumah mereka, banyaknya toko dan warung makanan, pelayanan kesehatan masyarakat serta kesadaran akan pendidikan yang sangat tinggi. Tidak mengherankan jika beberapa tahun terakhir Desa Kraton sering dikunjungi pejabat, baik dari Jawa Timur maupun dari luar Jawa Timur.

Desa berpenduduk 2.526 jiwa, kini dipimpin seorang ibu berusia 55 tahun, bernama Tatik Susantie. Ia mengemban amanah untuk melanjutkan kepemimpinan Bpk. Sujiadi, yang meninggal dunia setelah menjadi kepala desa selama 8 bulan. Praktisnya, sejak 15 September 2014 lalu, ibu yang juga sekretaris desa ini menjadi Pjs Kepala Desa. Walau hanya sementara, namun ibu dari dua putra ini tetap bersemangat memajukan desanya. Bersama perangkatdesa, pengurus BPD, LKMD, PKK dan unsur kemasyarakatan lainnya ia membangun warga Kraton.

“Saat ini kami melayani masyarakat Kraton bersama 4 orang perangkat desa. Alhamdulillah, walau hanya 4 orang perangkat desa, kami mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan sebaik-baiknya,” tutur Ibu Tatik Susantie. Lebih jauh ia menjelaskan dengan semangat kebersamaan dan kerja keras yang berorientasi pada pelayanan terbaik kepada masyarakat, Desa Kraton seringkali mendapat predikat terbaik tidak saja di Kecamatan Yosowilangun, di Kabupaten Lumajang tetapi juga di Jawa Timur.

Desa Siaga dan Prestasi

Salah satu predikat terbaik itu adalah menjadi Desa Siaga percontohan sejak tahun 2006. Terkait dengan desa Siaga, Kader Penggerak Desa Siaga, Dra.Hj. Lilis Pujaharwati, menjelaskan bahwa awalnya Kecamatan Yosowilangun ada tiga desa yang menjadi desa Siaga yaitu Tunjungrejo, Wotgalih dan Kraton. Perkembangan selanjutnya kedua desa tersebut tidak aktif dan yang aktif hanya Desa Kraton.

Menurutnya ada empat kategori desa Siaga yaitu, Siaga Pratama, Madya, Mandiri dan Purnama. Untuk meraih predikat Desa Siaga Mandiri, menurut Ibu Lilis ada 8 tahapan yang harus dilaksanakan; Pertama, tersedianya forum masyarakat desa yang bertugas membahas kesehatan. Kedua, pelayanan kesehatan dasar mudah. Ketiga, ada pos kesehatan desa. Keempat, ada Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM). Kelima, tersedianya kader aktif minimal 7 orang setiap Gerbangmas. Keenam, adanya dukungan dana dari pemerintah desa dan masyarakat. Ketujuh, ada peran organisasi kemasyarakatan dan adanya pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.

Terkait dengan upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM), bu Lilis menjelaskan bahwa di Kraton terdapat beberapa kegiatan meliputi; gerakan membangun masyarakat (Gerbangmas) 4 kelompok dan masing-masing memiliki gedung pertemuan, Posyandu Lansia berjumlah 125 orang, Sanitasi total berbasis masyarakat dan donor darah yang dilakukan secara rutin setiap 3 bulan sekali. “Untuk kegiatan donor darah, Desa Kraton mendapat penghargaan dari PMI Kabupaten Lumajang pada tahun 2013 karena dinyatakan paling aktif,” tutur Bu Lilis.

Menyinggung tentang peran serta Organisasi Kemasyarakatan, bu Lilis menjelaskan kepedulian ormas tersebut diwujudkan di beberapa kegiatan antara lain pemeriksaan kesehatan gratis, santunan kepada kaum dhuafa dan penyuluhan kesehatan. Untuk santunan kepada kaum dhuafa, biasanya berupa pemberian sembako setiap enam bulan sekali kepada sekitar 250 orang. “Ini secara rutin dilakukan oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah,” jelas Bu Lilis.

Dari berbagai kegiatan yang dilakukan ini, Desa Kraton seringkali mendapat prestasi baik di tingkat kabupaten maupun provinsi. Prestasi itu antara lain; pada tahun 2010 menjalin kemitraan dengan LSM Spectra dan Unilever dan terpilih sebagai desa sehat terbaik se Kabupaten Lumajang. Pada tahun yang sama, Dra. Hj. Lilis Pujaharwati, bendahara Desa Siaga, terpilih sebagai Kader Penggerak Kesehatan terbaik 3 Jawa Timur.

Pada tahun 2011 kader Tim Relawan Masyarakat Gersikpama ( Gerakan Sikat Gigi Pagi dan Malam) meraih Juara 1 di tingkat Kabupaten Lumajang dan Provinsi Jawa Timur. Prestasi terakhir yang diraih desa Kraton adalah nomor 5 pada lomba Desa Siaga Aktif tingkat Jawa Timur yang diselenggarakan pada tahun 2014.”Kami bersyukur karena Desa Kraton masuk lima besar. Hal ini mendorong kami untuk terus membangun masyarakat Kraton agar lebih maju lagi,” tutur Bu Tatik Susantie.

Dari beberapa prestasi yang diraih tersebut, menjadikan Desa Kraton sebagai salah satu tujuan kunjungan para tamu untuk melakukan studi banding. Menurut catatan yang sempat SAKINAH tulis ada beberapa kunjungan yang dilakukan oleh tamu-tamu, baik dari Jawa maupun luar Jawa bahkan luar negeri. Tamu-tamu tersebut antara lain; dari Pemerintah kabupaten Sidoarjo, dari Kalimantan, pada bulan Maret lalu dari Provinsi Lampung. Bahkan juga pernah ada kunjungn mahasiswi dari Amerika Serikat untuk melakukan studi banding.

 

PERPUSTAKAAN

Satu lagi yang menarik, Kraton, desa pinggiran yang potensial ini, ditunjuknya sebagai inspirator desa tetangga dalam pengelolaan Perpustakaan Desa berbasis IT. Menurut catatan yang ada di Kabupaten Lumajang ada 8 desa yang dipilih untuk mengelola perpustakaan desa, salah satunya adalah Kraton.”Perpustakaan kami awalnya merupakan Taman Baca Masyarakat yang dikelola oleh ibu-ibu PKK. Karena pengelolaannya dianggap baik maka pada tahun 2014 perpustakaan kami mendapat bantuan 1000 buku dan tiga unit perangkat internet,” tutur Bu Tatik.

Sementara itu, Penanggung Jawab Perpustakaan Desa Kraton yang bernama “Harapan Bangsa”, Pak Subur, menjelaskan bahwa perpustakaan yang ia kelola memiliki tiga fungsi yaitu pemberian pelayanan baca buku, pelayanan internet bagi masyarakat dan menjadi pusat kegiatan pembelajaran masyarakat. Terkait dengan keberlangsungan perpustakaan, ia menuturkan ada 3 sumber dana yang ia peroleh dan kelola. Pertama dari advokasi pihak swasta, sebagian dana Alokasi Dana Desa (ADD) dan swadaya masyarakat.

“Alhamdulillah, kami bersyukur kepada Allah SWT, ternyata respon masyarakat terhadap keberadaan perpustakaan ini sangat tingggi,” tegas Pak Subur. Seperti diakuinya, tingginya respon masyarakat tersebut dapat dilihat dari antusiasme masyarakat untuk memanfaatkan perpustakaan sebagai tempat mencari pengetahuan. Selain itu, sumber dana yang berasal dari swadaya masyarakat ini sangat tinggi. “Perpustakaan kami banyak dimanfaatkan oleh para pelajar, ibu-ibu dan para guru”, tambahnya.

Terkait dengan pengembangan perpustakaan desa, ia berharap bahwa desa tetangga sebisa mungkin merintis pendirian perpustakaan desa. Ini sangat penting artinya dalam upaya mendorong semangat baca masyarakat. “Ada beberapa desa berharap perpustakaan berbasis IT ini bisa dikembangkan di desanya, kami berharap pihak Telkom sesegera mungkin merespon keinginan warga desa itu agar bisa mengakses internet,” harapnya. (Z. Abidin)

(Sumber : Majalah Penyejuk Jiwa SAKINAH Bacaan Keluarga Muslim Indonesia Edisi 18 Juni 2015)

SAFARI GEMAR MEMBACA BERSAMA ANANG HERMASYAH

15. GEMAR MEMBACA[lumajangkab.go.id] Dalam masa reses DPR RI dimanfaatkan oleh Anang Hermansyah untuk melakukan Safari Gemar Membaca dengan menggandeng Perpustkaan Nasional dan Badan Perpustakaan Provinsi Jawa Timur. Pada kesempatan itu telah dipergunakan oleh Anang Hermansyah berkunjung ke Kabupaten Lumajang, karena daerah pemilihannya adalah Kabupaten Jember dan Kabupaten Lumajang, Anang anggota DPR RI pada Komisi XI yang membawahi pendidikan dan pariwisata, makanya dia sangat perhatian sekali terhadap minat baca bangsa Indonesia yang sangat lemah. Hal ini disampaikan oleh Anang Hermansyah pada saat hadir di Pendopo Kabupaten Lumajang, Rabu (13/5),yang diterima langsung oleh Bupati Lumjang Drs. H. As’at, M. Ag.

Dalam sambutannya Bupati Lumajang mengucapkan selamat datang di Kabupaten Lumajang, dimana sangat menyambut sekali kehadiran Anang Hermansyah, dengan Ibu Sri Sumekar perwakilan dari Perpustakaan Nasional, Bpk. Sudjono Kepala Badan Perpustakaan Provinsi Jawa Timur, yang ikut mendampingi Anang Hermansyah.

Belaiu menyatakan, bahwa Anang Hermansyah adalah seorang seniman yang mau memikirkan nasib bangsa Indonesia ini, saya bangga dengan usia yang masih muda tetapi tekad unuk memajukan bangsa Indonesia ini sangat baik sekali, ini semoga menjadi contoh bagi anak-anak muda kita. Mari kita contoh pada perpustakaan Tunas Bangsa Desa Pandanwangi Kecamatan Tempeh, yang baru-baru ini mendapat Juara I Tingkat Nasional, inilah sebagian kecil dari masyarakat desa yang masih aktif dalam membaca, sementara dalam kesempatan yang sama, hal senada diucapkan Bupati Asat Malik, dengan adanya 45 perpustakaan di Lumajang, ia meminta agar Lumajang bisa diajak maju dengan membaca. “Jika gemar membaca, terbukalah jendela dunia. Ayat suci yang pertama kali diturunkan pun, adalah seruan untuk membaca. Kalau ingin jadi orang hebat, maka gemarlah membaca,” .

Dan pada kesempatan itu pula Bupati Lumajang mendapat bantuan buku sebanyak 1000 eksemplar dari Perpustakaan Nasional. Kehadiran Anang Hermansyah tidak disia-siakan oleh panita, yaitu acara dikemas dengan dialog dengan undangan yang hadir di pendopo Kabupaten Lumajang, mulai dari siswa, mahasiswa, organisasi wanita, para Kepala Sekolah serta Dinas Instansi terkait dan para Camat se-Kab. Lumajang.

Anang menyampaikan wawasan tentang perpustakaan yang ada di Indonesia ini, walaupun dana untuk perpustakaan dibesarkan jumlahnya, tetapi minat baca masyarakat kurang, buat apa. Kita ini adalah bangsa yang besar, bangsa yang pintar, tetapi kenapa minat bacanya sangat rendah sekali, jadilah bangsa yang benar-benar mampu bersaing dengan bangsa lain, jangan hanya diam sebagai penonton saja. “Indonesia hari ini rakyatnya harus kreatif. Kreatifitas bisa didapat jika kita gemar membaca,” ucap Anang. Masih lanjut Anang, jika sumber kreatifitas dari membaca, ia menyayangkan kenapa minat membaca di Indonesia saat ini berkurang. “Menciptakan masyarakat kreatif dari membaca, perpustakaan harus Untuk meningkatkan minat baca masyarakat, Anang meminta bupati untuk menggalakkan program gemar membaca pada masyarakat. “Percuma banyak perpustakaan kalo minat baca rendah,” katanya.

Pada akhir acara Anang didaulat oleh undangan untuk menyanyikan lagu, namun Anang berdalih bahwa sejak menjadi anggota DPR RI, dia tidak pernah menyanyi lagi, dan dia fokus untuk memikirkan bangsa Indonesia, tidak mungkin bisa bangsa Indonesia yang jumlahnya 252 juta hanya ditangani 560 anggota DPR RI. Ini tidak main-main, mari kita bangun bangsa Indonesia ini dengan sungguh-sungguh, agar kita bisa bersaing di MEA 2015 ini. (humas-lmj)

http://lumajangkab.go.id/info_lihat.php?id=2617

JAJANAN DI HALAMAN SEKOLAH

Oleh : Chindy V.

Di depan sekolah banyak orang luar berjualan makanan yang kesehatannya dipertanyakan. Melarang kemauan anak untuk jajan di halaman sekolah susah sekali apalagi masih TK dan SD. Siapalah yang tak tergoda dengan makanan murah meriah, manis, asam, atau gurih, harum yang warnanya aduhai. Jangankan anak-anak, orang tua pun kadang terlihat ikut antre di sekitar gerobak penjajanya di gerbang sekolah. Padahal, sudah jadi rahasia umum, di balik penganan dan minuman menggiurkan itu ada bahaya besar yang mengancam kesehatan.

BPOM menyeburkan 31,8 persen makanan dan minuman jajanan yang dijual di lingkungan sekolah dasar mengandung bahan berbahaya. Berdasarkan Riskesdas 26,4 persen anak usia sekolah dasar dan sekolah menengah pertama menderita anemia gizi. Salah satunya disebabkan kebiasaan jajan penganan-penganan yang mengenyangkan, tapi miskin gizi.

Data Persatuan Ahli Gizi Medik Indonesia (PDGMI) menunjukkan jajanan sekolah hanya menyumbang 30 persen karbohidrat, 25 persen protein, dan 52 persen zat besi. Oleh karena itu penting bagi orang tua dan sekolah untuk selalu mengawasi kantin sekolah atau penjaja makanan di luar sekolah.

Peran Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) amat diperlukan. UKS sebagai wadah lintas sektor sangat strategis menjadi garda terdepan untuk menghadang bahaya yang mengancam kesehatan siswa lewat jajanan ini. UKS punya tim Pembina. Salah satu tugasnya memberikan pembinaan sarana keteladanan gizi. Tim pembina dapat berdiskusi dengan para penyedia jajanan di sekolah mengenai keuntungan yang sama-sama bisa didapat ketika menjual jajanan yang bergizi dan higienis kepada anak sekolah, namun rasanya tetap enak, menarik, dan tentu saja murah.

Sekolah bersama tim dapat memberikan aturan, kriteria, atau menyeleksi jajanan yang boleh dijual di sekitar lingkungan sekolah. Semua ini memang pada akhirnya akan memaksa penyedia jajanan untuk kreatif menciptakan atau memilih penganan dan minuman yang dijual. Pembina UKS memberikan penyuluhan yang sifatnya interaktif dengan menunjukkan manfaat yang siswa dapatkan, terutama untuk menunjang kegiatan belajarnya, ketika mengonsumsi jajanan yang sehat.

Memang dibutuhkan sumber daya yang mencukupi untuk melakukan pembinaan ini, namun investasi yang ditanamkan untuk menciptakan sumber daya yang memadai akan sebanding dengan hasilnya, yakni terciptanya generasi penerus yang sehat dan cerdas karena asupan gizi yang seimbang. Maka orang tua-guru-pembina UKS-kantin sekolah wajib berupaya menyediakan jajanan sehat untuk siswanya agar wali murid merasa tenang dan nyaman. (**)

Tuntutan Kartini Era Millenium

Family Chindy Vionariska

Family Chindy Vionariska

Besarnya tuntutan kebebasan perempuan di era millenium ternyata banyak menciptakan masalah baru yang belum pernah dihadapi oleh generasi pendahulu puluhan tahun yang lalu. Indonesia, sebagai sebuah Negara yang multikultur memiliki banyak kelompok atau lapisan perempuan yang masing-masing memiliki masalahnya sendiri. Lapisan tersebut tidak hanya dapat dipandang dari aspek kelas sosial atau ekonomi saja, namun juga melibatkan nilai-nilai budaya, adat istiadat dari berbagai etnis.

Perlahan tapi pasti, perempuan yang tadinya merupakan makhluk inferior dan berhubungan dengan urusan rumah tangga atau reproduksi semata, kini telah memegang pekerjaan di berbagai lapangan keilmuan. Sekarang kita dapat menemukan seorang perempuan yang bermatapencaharian sebagai sopir bus, guru, polisi bahkan pilot pesawat terbang. Penemuan baru di bidang teknologi semakin memperbesar keinginan perempuan untuk keluar dari urusan rumah tangga dan mengambil peranan yang lebih besar di tengah masyarakat. Perempuan di abad industrialisasi ialah perempuan yang memiliki multiple roles atau peran majemuk. Seorang perempuan dapat menjadi ibu dan ayah sekaligus, memainkan peran sebagai seorang direktur perusahaan, bahkan sebagai seorang tokoh keagamaan.

Meminjam istilah Emile Durkheim, kaum perempuan, sedang berada dalam kondisi anomie; masih menaruh rasa hormat yang tinggi terhadap budaya, tetapi gaya hidupnya sudah universal dan modern. Tampaknya, kaum perempuan memang harus mencermati secara serius terhadap kondisi anomie yang mau atau tidak, mesti dilaluinya. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana mewujudkan sosok perempuan yang tidak kehilangan identitasnya atau jati diri di tengah-tengah kuatnya arus transformasi budaya era millenium? Pertanyaan semacam itulah yang butuh jawaban serius. Artinya, di tengah fenomena pergeseran peran dari mono-peran ke dwi-peran, kaum perempuan ‘millenium’ tidak mengalami “keterkejutan” budaya yang justru akan makin menjauhkan figurnya dari sentuhan nilai ideal secara normatif sebagai kunci sukses hidup berumah tangga.

Mitos kanca wingking memang harus dibebaskan . Kaum perempuan dituntut untuk bisa tampil mandiri, dinamis, kreatif, penuh inisiatif , dan profesional dalam mengambil perannya di sektor publik. Meski demikian bukan berarti harus meningalkan “naluri’’ keibuan yang penuh sentuhan perhatian dan kasih sayang terhadap anak dan suami, lembut, hormat, etis, dan bermartabat tinggi. Tetapi lebih menunjukkan kiprah perempuan yang bisa memberikan partisipasi dan ikut andil dalam pembangunan di sektor publik . Bagaimana perannnya dalam peningkatan kompetensi SDM serta kompetisi yang sehat bersama laki-laki sebagai wujud dari konstribusinya di ranah publik.

Ikut berpatisipasinya perempuan untuk berperan di kalangan publik harus di hargai, karena mereka juga memiliki hak yang sama untuk memperoleh kedudukan akses dan pemerataan yang sama di mata publik . Yang masih perlu dipikirkan ialah kapabilitas dan kemampuan yang dimiliki semua perempuan bisa berpartisipasi di ranah publik , dalam kacamata sosial tidak ada pembatasan yang membelenggu, era millenium bisa menjadi lahan pembebasan bagi pergerakan perempuan tanpa melupakan keterikatan aturan norma sosial, hak dan kewajibannya sebagai seorang perempuan.

Kebebasan yang di harapkan dari perjuangan perempuan era millenium adalah pengakuan yang sama di mata laki-laki bahwa perempuan juga mampu tidak dipandang sebelah mata. Kartini masa kini adalah sosok Kartini yang bisa memberikan inspirasi bagi lingkungan sekitarnya , bertanggung jawab, berdedikasi tinggi untuk berusaha mewujudkan persamaan hak perempuan baik di sektor publik maupun sektor domestik . Kartini era millenium sangat jauh berbeda dengan Kartini masa lalu. Yang menjadikannya tetap eksis adalah perjuangan menggapai asa dalam kehidupan yang lebih egaliter.

Mirisnya nasib perempuan masa lalu, bisa menjadi pelajaran berharga bagi perempuan era millenium. Maka jangan lupakan sejarah perjuangan Kartini. Menjadi Kartini era millenium perlu membekali diri. Dengan pendidikan dan keahlian yang sesuai dengan tuntutan era. Pantang menyerah dan terus berusaha memajukan diri perlu dikembangkan untuk bisa menjadi perempuan hebat di era millenium.

Teknologi terbukti mampu membebaskan wanita dan mendorong emanisipasi di berbagai bidang, namun juga menyisakan pertanyaan besar akan sejauh mana batas kebebasan perempuan ini akan melebar. Dampak terburuk atas industrialisasi peranan perempuan ini adalah penyimpangan-penyimpangan sosial yang muncul beriringan dengan cepat.

Agar tidak terlalu terseret, perempuan dituntut untuk mampu mengontrol perannya secara seimbang, tidak hanya memupuk egoismenya melihat peran yang bisa melambungkannya ke langit saja, tetapi juga harus mampu melihat secara jeli peran yang paling dekat dengan dirinya, yaitu merangkul erat buah hati dengan penuh kasih sayang seraya mencerdaskan kader bangsa yang telah dilahirkannya untuk siap menyongsong MEA di era millenium. Maka bersyukurlah menjadi perempuan yang diberi kekuatan ganda dan kemuliaan oleh Sang Maha Pencipta. Selamat berjuang menjadi Kartini millenium yang hebat. { llk }

Note : tulisan ini juga dimuat di Majalah Suara PGRI edisi April 2015

Kartini

Kartini

Puncak B 29, Wisata di Atas Awan

Oleh Chindy Vionariska

Luar biasa! Sungguh mengagumkan! Panorama yang tak ada duanya di kota ini. Pesona Puncak B 29 di Argosari Lumajang membuka mata dan hati kita bahwa Lumajang memiliki kekayaan dan keindahan alam yang tak kalah menariknya dengan kota wisata lainnya. Wisata alam yang satu ini memang baru dikenal namanya, baik oleh wisatawan domistik maupun mancanegara. Namun sudah banyak yang berkunjung dan menikmati keindahannya. Sekelompok orang dari organisasi, kantor, maupun keluarga, terutama para remaja yang berjiwa petualang tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk saling mendahului menikmati keindahannya yang alami.

Puncak B29Gambar 1 (fotografer : Chindy)

Nama Puncak B 29 merupakan kependekan dari Puncak Bukit 2900 mdpl. Ada sepuluh keindahan yang menakjubkan di sini. Semuanya mengantarkan pandangan kita ke atas awan. ‘Subhanallah’, Maha Suci Allah yang telah menciptakannya untuk kita. Mari kita baca profil sembilan gambar dalam tulisan ini mengikuti alur waktu menikmatinya. Pemandangan pada gambar 1 diberi nama Sunrise Puncak B 29, terketak pada ketinggian 2900 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kita akan menikmati ‘sunrise’ dengan lautan awan yang sangat indah yang menjadikan kita berdiri di atas awan. Suasana ini sempurna bila dinikmati pada pukul 05.00 WIB.

 awan tumpah yang menawanGambar 2

view bromo dari puncak B29Gambar 3

Gambar 2 dan 3 ada kemiripan namun berbeda. Gambar 2 mengisahkan Panorama dan View Gunung Bromo yang sangat indah jika dinikmati dan dilihat dari Puncak B 29. Di tempat ini kita seperti melihat sebuah miniatur wisata Gunung Bromo. Itu yang kita rasakan. Pemandangan ini sebaiknya dinikmati pada pukul 06.30 WIB. Amati baik-baik dengan hati dan perasaan, kita akan tercekat, terkagum-kagum. Panorama ini diberi judul View Bromo dari Puncak B 29. Sementara pada gambar 3 tampak bendungan awan terlihat jelas dan mengalir serasa awan tumpah dengan air terjun awan. Sebuah view yang eksotik, indah dan sangat menawan, luar biasa. View yang bertajuk Awan Tumpah yang Menawan ini sebaiknya diamati dan dirasakan sentuhan sensualnya pada cuaca cerah pukul 06.50 WIB.

 camping ground puncak B29Gambar 4

Gambar 4 adalah Camping Ground Puncak B 29. Tempat lokasi berkemah ini salah satu daya tarik bagi para pendaki dan wisatawan yang ingin menikmati sejuknya udara di puncak B 29 serta sebagai tempat untuk berkumpulnya wisatawan. Waktu menikmatinya sebaiknya pukul 08.15. Selanjutnya pada pukul 09.20 saatnya menuju masjid tertinggi di Pulau Jawa. Eksotika religi berupa masjid yang terletak di lereng puncak B 29 ini memberi kesan tersendiri tentang adanya toleransi umat beragama, lihat gambar 5.

 masjid tertinggi di pulau JawaGambar 5

bukit dahyangan dan gumpalan awanGambar 6

Panorama Bukit Danyangan adalah nama pada gambar 6, yaitu sebuah tempat sebelum memasuki pintu gerbang Desa Wisata Argosari. Jika dilihat dari atas bukit lainnya tampak sangat indah memesona. Terlihatlah sebuah bukit yang sangat unik diperindah dengan gumpalan awan pagi. Semakin menarik apabila dilihat pada pukul 09.45 ketika cuaca masih sangat cerah. Tanda puncak B 29 diberi nama Tri Padma Mandala yang terlihat pada gambar 7. Nama Tri Padma ini memiliki arti bahwa di puncak ini ada tiga tokoh terkenal bernama Joko Noto, Joko Niti, dan Sapu Jagad. Siapa pun yang telah sampai di tempat ini bahkan sempat berfoto berarti telah menginjakkan kaki di puncak tertinggi.

 Tri Padma Mandala Tanda Puncak B29Gambar 7

kampung nirwana puncak B29Gambar 8

Memasuki Kampung Nirwana (gambar 8) kita berada di wilayah yang ada di Desa Wisata Argosari. Tempat ini memiliki eksotika yang wah, kita bisa melihat pemandangan alam yang dikelilingi oleh hamparan awan yang sangat indah. Sapaan penduduk Tengger yang sangat ramah dengan bahasa khasnya menjadikan kita betah di tempat ini. Suasana cerah bisa didapat sekitar pukul 10.00.

Bila cuaca sedang mendukung, maka kita bisa menikmati pemandangan awan menyelimuti bumi hingga merasakan keindahan bagai Selimut lembut yang selalu menghangatkan tubuh.

 sunset puncak B29Gambar 9

Saat yang tepat untuk menikmati sunset adalah pukul 17.25. Sunset Puncak B 29 terlihat pada gambar 9 Di sini kita bisa melihat pergantian hari dari siang menuju malam dengan udara yang sejuk dan pemandangan yang indah, luar biasa menakjubkan. Sunset mengakhiri wisata kita di Puncak B 29. Lokasi wisata alam terindah yang memberi kesempatan wisatawan menikmati sunrise sekaligus sunset.

Sembilan keindahan di atas terletak di Desa Argosari Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang Provinsi Jawa Timur. Untuk menuju ke tempat ini adrenalin memang terus ditantang. Jalan berliku dan berkelok sepanjang Gunung Semeru. Namun terobati ketika sampai di Kampung Nirwana, kampung serpihan surga tempat yang selalu diburu para fotografer mengabadikan momen indah penuh kenangan. Rugilah bila kita tidak segera menikmatinya. Selamat datang ke Puncak B 29 kebanggaan Kabupaten Lumajang.