REFLEKSI DI HARI IBU

azri born with smile

REFLEKSI DI HARI IBU

Oleh : Chindy V.

Ibu. Siapakah ibu? Benarkah ibu sebagai “Tiang Negara?” Benarkah bangsa ini banyak berharap dari sosok seorang ibu? Dapatkah ibu diharapkan mampu mengentas bangsa ini dari keterpurukannya. Karena ada anggapan bila ibu baik, maka baik pula generasi bangsanya. Perjuangan ibu / perempuan untuk beremansipasi dengan tetap menjadi tiang negara, mampu menjaga harkat dan martabatnya serta mempertahankan surga di telapak kakinya menjadi sangat panjang dan berat.

Perempuan memiliki tempat terhormat dalam Al Quran. Kedudukannya sebagai istri, sebagai ibu, maupun sebagai dirinya sendiri dikupas di dalamnya. Perempuan bahkan terpatri menjadi nama satu surat yaitu An-Nisa’.

Perempuan memiliki surga di telapak kakinya. Sebuah harkat dan martabat yang sangat tinggi dan mulia yang dikaruniakan Allah kepadanya. Mampukah perempuan-perempuan menjaga dan melestarikan predikat yang disandangnya sementara cobaan dan tantangan silih berganti. Karena itu menjadi perempuan sakinah sangat sulit perjuangannya.

Dulu perempuan direndahkan, dihinakan, dan ditiadakan hak-haknya sebagai insan. Zaman Yunani perempuan diperdagangkan, diperjualbelikan. Di kalangan bangsa Spartan perempuan dipakai sebagai alat penjaga rumah. Bangsa Romawi menghina perempuan dengan keji. Bangsa Hindu menganggap perempuan paling jahat. Bangsa Masehi, Eropa menjuluki perempuan sebagai pintu masuk setan. Bangsa Yahudi menjual anak-anak perempuannya. Bangsa Arab mengubur bayi perempuannya hidup-hidup. Bahkan Adam pun turun dari surga juga karena perempuan. Semuanya adalah gambaran masa lalu perempuan sebelum Islam dan Al Quran mengatur hidup manusia.

Pada zaman emansipasi, perempuan menuntut hak persamaan dengan laki-laki. Ia juga harus bisa bebas menentukan hidupnya dan ikut terjun di luar rumah. Sudah banyak perempuan yang sarjana dan bekerja serta menduduki jabatan yang strategis. Bersamaan dengan itu pula lahirlah berbagai problem di seputar perempuan.

Sekarang perempuan lebih berani mengaktualisasi diri tidak hanya dalam bidang yang bernilai positif, tetapi di bidang bernuansa negatif pun digelutinya. Menjadi guru, dokter, hakim, polisi, politisi, direktur, manajer, bahkan presiden. Itu peran aktif perempuan masa kini. Mereka menganggap kalau semua itu merupakan hasil gemilang dari upaya emansipasi. Sementara di balik itu ada pula perempuan penghibur yang keberadaannya meresahkan masyarakat. Mereka telah berani terang-terangan. Rasa malu telah hilang. Mereka melakukannya dengan penuh kesadaran, bukan karena paksaan dari orang lain sebagaimana terjadi pada zaman dulu.

Perempuan manakah yang menjadi panutan anak dan remaja sebagai generasi muda penerus bangsa. Perempuan ibu rumah tangga atau wanita karier. Perempuan yang mampu menjadi tuntunan atau sekedar tontonan. Remaja cenderung memiliki idola. Jika salah menentukan idola, maka salah pulalah langkanya menapaki masa depan mengukir bangsa ini.

Ada banyak merek yang melekat pada diri perempuan. Perempuan karier yang orientasi utamanya peningkatan karier semata dengan menomorduakan keluarga. Perempuan yang mementingkan kepuasan diri dan bangga karena banyak disukai lawan jenis, banyak. Perempuan karier, aktif di organisasi, bisa membagi waktu, serta mampu menjaga diri dan kehormatannya, juga ada. Ada pula, perempuan karier, sarjana, punya jabatan mapan, setelah menikah rela melepas jabatan dan menanggalkan gelarnya demi mengabdi pada keluarga, membesarkan anak, dan melayani suami.

Lantas perempuan yang manakan kita?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s