PENDIDIKAN PEMAKAI PERPUSTAKAAN

PERENCANAAN PENDIDIKAN PEMAKAI

UNTUK SISWA/MURID SEKOLAH DASAR

oleh : Chindy Vionariska

PENDAHULUAN

Dalam kehidupan suatu negara pendidikan memegang peranan yang amat penting untuk menjamin kelangsungan hidup negara dan bangsa, karena pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Masyarakat Indonesia dengan laju pembangunannya masih menghadapi masalah pendidikan yang berat, terutama berkaitan dengan kualitas, relevansi, dan efisiensi pendidikan (E. Mulyasa, 2003: 15).

Dalam rangka melaksanakan otonomi daerah, diperlukan adanya antisipasi terhadap perubahan-perubahan global pada persaingan pasar bebas, serta tuntutan kemajuan ilmu pengetahuan, dan teknologi, khususnya teknologi informasi yang semakin hari semakin canggih.

Berdasarkan kedua hal tersebut, maka diperlukan perubahan yang cukup mendasar dalam sistem pendidikan nasional, yang dipandang oleh berbagai pihak sudah tidak efektif, dan tidak mampu lagi memberi bekal, serta tidak dapat mempersiapkan peserta didik untuk bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Orientasi sistem pendidikan nasional juga sudah berubah. Keberhasilan peserta didik, tidak hanya tergantung pada guru sebagai motivator, fasilitator, tetapi sekaligus menjadi evaluator. Keaktifan siswa untuk mengembangkan diri dan mencari informasi juga perlu diutamakan.

Untuk itu diperlukan adanya suatu manajemen dan kurikulum yang tepat yaitu Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).

Secara konseptual, Manajemen Berbasis Sekolah dapat digambarkan sebagai suatu perubahan formal struktur penyelenggaraan, sebagai suatu bentuk desentralisasi yang mengidentifikasi sekolah itu sendiri sebagai unit utama peningkatan serta bertumpu pada redistribusi kewenangan pembuatan keputusan sebagai sarana penting yang dengannya peningkatan dapat didorong dan ditopang (Malen, Ogawa dan Kranz, 1990: 1).

Manajemen Berbasis Sekolah dapat diartikan sebagai pengorganisasian dan penyerasian sumber-sumber daya yang dilakukan secara mandiri oleh sekolah dengan melibatkan semua unsur kepentingan yang terkait dengan sekolah secara langsung dalam proses pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan mutu sekolah (Suparno dkk., 2002: 58).

Pada prinsipnya, MBS membutuhkan pengetahuan, yaitu Kepala sekolah dan seluruh warga sekolah harus menjadi seseorang yang berusaha secara terus menerus menambah pengetahuan dan ketrampilan dalam rangka meningkatkan mutu sekolah.

Di era global ini, informasi berperan penting. Selain berfungsi sebagai sumber daya strategis yang digunakan untuk mengurangi ketidak pastian, informasi juga dapat bertindak sebagai penghubung antara sumber daya manusia, sumber dana, bahan baku, berbagai infrastruktur ekonomi dan politik, teknologi dan masih banyak lagi.

Untuk itu, sekolah yang melakukan MBS perlu memiliki informasi yang jelas berkaitan dengan pelaksanaan program sekolah. Informasi ini diperlukan agar semua warga sekolah serta masyarakat sekitar bisa dengan mudah memperoleh gambaran kondisi sekolah, sehingga warga sekolah dapat mengambil peran dan partisipasi. Disamping itu ketersediaan informasi sekolah akan memudahkan pelaksanaan monitoring, evaluasi, dan akuntabilitas sekolah. Informasi yang amat penting untuk dimiliki sekolah antara lain yang berkaitan dengan: kemampuan guru dan Prestasi siswa.

Keadaan inilah yang juga ditunjang oleh perkembangan teknologi informasi, dan komunikasi, semakin mendorong cepatnya proses penciptaan dan pengkonsumsian informasi, sekaligus juga mendorong semakin meningkatnya kebutuhan akan informasi yang tepat, cepat, dan akurat. Hal ini, tentu akan berpengaruh pada lembaga-lembaga pengelola informasi, termasuk di antaranya perpustakaan sekolah.

SISWA SEKOLAH DASAR (WAJIB BELAJAR 9 TAHUN)

Pemerintah mencanangkan Wajib Belajar 9 Tahun pada anak berusia sekolah dasar. Untuk mewujudkannya dibutuhkan suatu upaya yang tepat, salah satunya dengan membaca.

Berbicara tentang pendidikan, orang mengatakan bahwa ” Membaca adalah kunci keberhasilan pendidikan di sekolah “ (Reading is the key to success in school). Ungkapan ini sudah merupakan suatu falsafah pendidikan di negara maju. Pernah sekelompok guru di Amerika mengadakan studi tentang siswa dan problem-problem belajarnya di sekolah. Salah satu kesimpulan yang penting yang mereka nyatakan adalah, bahwa seorang siswa yang lemah dalam subyek tertentu, umpamanya matematika, masih bisa baik dalam bidang studi yang lain. Tetapi seorang siswa yang kurang atau tidak gemar membaca hampir selalu tidak baik dalam semua bidang studinya. Sukses studinya sangat bergantung pada ketrampilan dan frekuensi ia membaca. Ternyata memang semua subyek yang harus dipelajari, semua penjelasan bagaimana membuat sesuatu harus dibaca untuk dimengerti dan dicari pemecahannya. Makin tinggi jenjang pendidikan makin banyak yang harus dibaca.

Kita sering mendengar tentang masalah minat baca atau kebiasaan membaca (reading habit). Kebiasaan membaca tidak berkembang dengan sendirinya, harus melalui pembinaan , bimbingan, dorongan dengan motivasi yang jelas, diadakan sarana yang lengkap berupa bahan bacaan yang cukup bervariasi. Disinilah kita melihat betapa pentingnya peranan perpustakaan di sekolah dalam meningkatkan.

Hotman Siahaan menjelaskan frame mengapa perpustakaan itu penting. Filosofi yang dia ketengahkan adalah “alam takambang menjadi guru”. Artinya lingkungan yang ada di sekitar kita adalah guru. Namun parahnya, budaya kita masihlah budaya lisan (bahasa bertutur). Padahal seharusnya masyarakat cerdas itu sudah mulai akrab dengan budaya baca dan bahasa tulis. Menurut Dekan FISIP Unair ini, reading habit di Indonesia terendah dibandingkan dengan negara-negara tetangga di ASEAN.

Harus ada tindakan yang sangat mendasar memecahkan persoalan minat baca di Indonesia. Hotman Siahaan melontarkan ide “terobosan budaya”, yaitu sebuah terobosan sosial ditingkatan praktisi yaitu guru dan pustakawan, Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI), tokoh-tokoh masyarakat dan pengelola semua jenis perpustakaan untuk menyadarkan siapa saja yang kurang memahami persoalan perpustakaan khususnya minat baca. Kalau perlu, menurut Hotman harus ada gerakan sosial untuk membangkitkan minat baca dikalangan masyarakat surabaya.

Budaya membaca juga harus ditunjang dengan bahan bacaan yang bagus dan berkualitas. Bacaan yang berkualitas, membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Mengatasi permasalahan tersebut, jalan keluarnya adalah dengan memanfaatkan dan menggunakan perpustakaan semaksimal mungkin.

Kita harus memberikan sebuah tekanan yang kuat bahwa perpustakaan adalah penting, bahwa buku dan persoalan membaca adalah penting. Selain itu, harus selalu ada gerakan yang massive dan masukan-masukan kritis dari masyarakat secara luas tentang keberadaan perpustakaan dan pentingnya minat baca.

Oleh karena itu, diperlukan adanya sebuah ekskalasi gerakan dari seluruh lapisan masyarakat sehingga nantinya, minat baca dapat tinggi, melalui perpustakaan, sebagai ikon kota dan ikon mercu suar. Seluruh komponen masyarakat seharusnya satu suara mengenai isu ini baik itu pustakawan, guru, LSM, tokoh-tokoh masyarakat, maupun dunia akademis.

PERPUSTAKAAN

Keinginan yang kuat untuk mewujudkan sebuah perpustakaan yang ideal berarti sudah mengarah pada penetapan standar kualifikasi pusat sumber belajar. Perpustakaan memiliki tanggung jawab yang harus diemban akibat konsekuensi logis atas keberadaan atau ”kehadiran”-nya di tengah-tengah masyarakat. Tanggung jawab tersebut merupakan kesatuan antara lembaga sebagai suatu institusi dan para pelaku organisasi.

Perpustakaan sekolah yaitu suatu unit kerja dari sebuah lembaga persekolahan yang berupa tempat menyimpan koleksi bahan pustaka penunjang proses pendidikan, yang diatur secara sistematis, untuk digunakan secara berkesinambungan sebagai sumber informasi untuk mengembangkan dan memperdalam pengetahuan, baik oleh pendidik maupun yang dididik di sekolah tersebut  (C. Larasati Milburga, dkk. 1994: 54).

Fungsi sebuah perpustakaan merupakan penjabaran lebih atas semua tugas perpustakaan. Fungsi perpustakaan tersebut antara lain adalah pendidikan dan pembelajaran, informasi, penelitian, rekreasi, dan preservasi. Berdasarkan fungsi tersebut, maka user education merupakan salah satu fungsi utama yang tidak boleh dilupakan.

Sedangkan fungsi perpustakaan sekolah yaitu sebagai pusat layanan bahan pustaka, bimbingan membaca, dan pengikat pengalaman belajar siswa di sekolah (Soelistia, 1995: 13).

Agar kegiatan perpustakaan berjalan sesuai visi dan misi, maka perpustakaan harus memiliki sistem yang tepat. Sistem, mekanisme, prosedur, metode dan tata cara lainnya yang dipergunakan di perpustakaan harus baku (standar). Perpustakaan sebagai suatu pusat informasi, tidak dapat berjalan baik, manakala tidak diselenggarakan dengan suatu sistem kerja, yang tersusun dan terpola dengan baik.

Begitu juga dengan layanan perpustakaan. Layanan perpustakaan diarahkan untuk mampu memenuhi kebutuhan pengguna perpustakaan, sehingga pengguna mendapatkan kepuasaan.

Kalau dahulu, orientasi perpustakaan terfokus pada hal-hal teknis, sekarang lebih berorientasi pada pemakai. Dari perubahan tersebut, maka sangat  dibutuhkan pendidikan pemakai (user education).

PENDIDIKAN PEMAKAI (USER EDUCATION)

Pada dasarnya setiap perpustakaan perlu membina kerja sama yang baik dengan masyarakat pemakai. Dalam pembinaan kerja sama itu dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satu cara adalah membina dengan memberikan pengetahuan dan keterampilan dalam hal menelusur, menggunakan, dan memberdayakan sumber informasi. Khususnya perpustakaan yang melayani kelompok masyarakat yang masih belum terbiasa dengan sistem layanan perpustakaan. Hal ini cukup penting agar pemakai perpustakaan dapat dengan cepat dan tepat menemukan apa yang diperlukan, sehingga kekecewaan bisa dihindari.

Untuk membantu kelompok pemakai yang demikian, maka akan sangat bermanfaat jika diadakan penjelasan, cara, dan metode tentang bagaimana menggunakan, menelusur, dan menemukan sumber informasi yang diperlukan.

Pada suatu waktu yang tepat, perpustakaan dapat merancang program untuk memberikan pendidikan pada pemakai tentang suatu pengetahuan dan ketrampilan tentang sistem layanan, susunan koleksi, penggunaan kartu katalog, kegunaan klasifikasi dan nomor kode, dan berbagai kelengkapan koleksi yang sudah selesai diolah dan disusun pada rak/tempat lain, serta berbagai petunjuk yang berkenaan dengan sumber informasi. Dengan  pengetahuan tersebut, diharapkan pemakai perpustakaan dapat dengan efektif dan efisien memanfaatkan layanan jasa perpustakaan.

Dalam proses belajar, setiap anak tidak memiliki kemampuan yang sama, karena itulah pustakawan dapat membantu atau bekerjasama dengan siswa, guru, dan petugas Bimbingan Konseling (BK), sehingga program pendidikan pemakai dapat lebih efektif dan mengena sasaran pada anak didik kita.

1. PENGERTIAN PENDIDIKAN PEMAKAI

Menurut buku pedoman perpustakaan perguruan tinggi (1994), pendidikan pengguna adalah kegiatan membimbing atau memberikan petunjuk kepada pengguna dan calon pengguna agar mampu memanfaatkan kemudahan dan pelayanan perpustakaan dengan efektif dan efisien.

Sebagai suatu proses yang berkelanjutan, user education mempunyai 2 (dua) komponen, yaitu library orientation (orientasi perpustakaan) dan library/bibliographic instruction (pengajaran perpustakaan/bibliografi), dimana kedua hal ini dibedakan dalam kedalaman kemampuan dan ketrampilan yang diberikan.

Ada beberapa hal yang diperlukan dalam mengembangkan perpustakaan agar bisa sukses melakukan pendidikan pemakai, yaitu:

  1. Perlunya ada kemauan
  2. Perlunya motivasi
  3. Adanya Environmental pressure (tekanan lingkungan)
  4. Pustakawan sebaiknya tidak mengeluh mengenai apa yang menjadi tanggung jawabnya.

2. TUJUAN PENDIDIKAN PEMAKAI

Kegiatan pendidikan pemakai bertujuan untuk memberikan gambaran yang jelas tentang berbagai jasa, fasilitas dan layanan yang diberikan oleh perpustakaan,, agar pengunjung mengetahui secara pasti bagaimana sebuah informasi didapat dan didayagunakan dengan cara efektif dan efisien.

3. MATERI PENDIDIKAN PEMAKAI

Adapun materi yang diberikan dalam pendidikan pemakai antara lain :

  1. Sistem layanan
  2. Sistem keanggotaan
  3. Sistem pengolahan
  4. Peraturan dan tata tertib perpustakaan
  5. Akses informasi/temu balik
  6. Sarana temu kembali informasi

Pendidikan pemakai bukan mengajari tentang penguasaan materi informasi yang terkandung dalam kemasan informasi. Tetapi dalam rangka memberikan pengantar tentang bagaimana menemukan sumber informasi dengan mudah dan cepat menurut sistem yang dipergunakan perpustakaan sebagai suatu standar pengolahan.

4. FAKTOR-FAKTOR PENGHAMBAT DALAM PELAKSANAAN PENDIDIKAN  PEMAKAI

Terkait dengan pemanfaatan perpustakaan, dari beberapa penelitian diketahui bahwa pemanfaatan perpustakaan dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya :

  1. Adanya image yang kurang bagus tentang perpustakaan
  2. Minimnya kemampuan untuk menelusur informasi
  3. Minimnya kemauan untuk menelusur informasi
  4. Minimnya pembuatan karya tulis ilmiah termasuk didalamnya penelitian
  5. Rendahnya minat baca
  6. Adanya pustakawan yang kurang professional
  7. Koleksi perpustakaan yang kurang lengkap, tua dan dalam kondisi yang kurang baik
  8. dll

Untuk meminimalisir faktor-faktor penghambat di atas, tentunya banyak yang bisa dilakukan oleh pengelola perpustakaan untuk dapat meningkatkan pemanfaatan perpustakaan secara maksimal, baik itu pembenahan ke dalam maupun dengan melakukan upaya keluar.

5. PERENCANAAN PENDIDIKAN

Dalam membuat suatu program user education, harus dilakukan secara cermat dan hati-hati. Hal ini dikarenakan keragaman :

  1. Karakteristik pengguna
  2. Latar belakang pengetahuan tentang perpustakaan
  3. Kemampuan dalam menelusur informasi
  4. Kebutuhan informasi pengguna

Jadi dalam merumuskan tujuan dan sasaran pada setiap kegiatan harus disusun secara tepat. Selain itu, metode pengajaran, media, sarana yang harus dipersiapkan, waktu pengajaran, dan isi atau materi harus direncanakan dengan cermat. Yang tidak kalah pentingnya adalah siapa yang melakukan pengajaran.

Mengapa ini perlu mendapatkan penekanan khusus, karena seringkali, berbagai persiapan sudah dilaksanakan, tetapi menjadi tidak efektif karena kurang siapnya atau kesalahan dalam pemilihan tutor.

6. CONTOH PERENCANAAN PENDIDIKAN PEMAKAI

Salah satu contoh perencanaan pendidikan pemakai adalah dengan menerapkan program pengajaran di kelas.

Dalam upaya meningkatkan kualitas kegiatan belajar mengajar di sekolah, maka perpustakaan membuat suatu program yaitu program pengajaran di kelas. Program ini mempunyai harapan mampu menghasilkan kualitas siswa yang sesuai dengan tuntutan masyarakat, yaitu mampu bersaing dengan sekolah-sekolah yang telah sukses.

Program ini dapat menunjang perpustakaan masuk ke dalam kurikulum sekolah dan mempunyai kompetensi berbeda tiap jenjangnya. Program ini patut dicontoh dan dikembangkan sesuai kemampuan sekolah. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam program pengajaran di kelas yaitu :

  1. Lama pengajaran

Materi disampaikan selama 60 menit per minggu (tiap kelas). Dengan diberikan waktu yang cukup untuk mengajar tentang perpustakaan, dirasa sangat membantu pemahaman siswa terhadap kegiatan dan pengetahuan perpustakaan itu sendiri.

  1. Tujuan pelajaran perpustakaan di kelas

Program pengajaran di kelas memiliki beberapa tujuan yaitu :

1)    Siswa-siswi dapat menggunakan dan memanfaatkan perpustakaan sebagai sarana penerangan maupun sumber informasi baik melalui bahan cetak maupun non cetak.

2)   Untuk mempromosikan koleksi perpustakaan sehingga timbul rasa ingin tahu dan dapat membangkitkan minat baca serta kecintaan terhadap buku dan perpustakaan.

3)   Melatih pelajar untuk berpikir kritis, kreatif dan bebas berpendapat dalam menilai karya sendiri maupun orang lain.

4)   Untuk melatih pelajar mengembangkan pelajaran yang diterima di kelas tanpa bantuan orang lain (guru).

5)   Untuk melatih pelajar dan membiasakan diri dalam menggunakan fasilitas perpustakaan.

6)   Untuk melatih dan memupuk pelajar dalam hal tulis-menulis.

  1. Materi yang diberikan dalam program pengajaran di kelas

Untuk mendukung kegiatan pengajaran di kelas, maka diperlukan adanya materi pelajaran. Tiap-tiap kelas mendapatkan materi yang berbeda sesuai tingkat kemampuan siswa menerima dan menyerap suatu ilmu. Adapun materi-materi yang  tiap kelas dapat dilihat berikut ini :

  • Materi kelas 1 (orientasi ke perpustakaan)
  1. Mengenalkan perpustakaan sekolah dari berbagai segi diantaranya fungsi dan tujuan perpustakaan, tata tertib perpustakaan, dan cara peminjaman dan pengembalian bahan pustaka
  2. mengenalkan akan hak dan kewajiban pembaca/peminjam antara lain tidak boleh menyobek halaman, menulisi buku yang bersangkutan, tidak boleh dilipat, dll.
  3. mengenal nama-nama kelengkapan buku yaitu label, slip tanggal kembali, barcode, stempel, dll.
  4. mengenalkan cara merawat buku secara sederhana dan membuka buku baru agar tahan lama.
  5. mengetahui dan menghafal abjad (huruf ABCD…) dengan cara mengenalkan pengarang dan penggambar (ilustrator) dari buku sehingga anak dapat menghargai hasil karya orang lain.
  6. melakukan strory telling, dilanjutkan dengan tanya jawab.
  7. bimbingan membaca dan menulis.
  • Materi kelas 2
  1. mengenalkan sampul.
  2. latihan mencari dan menemukan buku-buku pada tempatnya.
  3. mengenalkan bagaimana mengembalikan buku pada tempatnya menurut nomor buku (call number).
  4. story telling, dengan topik-topik khusus dan dilanjutkan dengan tanya jawab.
  5. bimbingan membaca dan menulis.
  • Materi kelas 3
  1. mengenalkan Klasifikasi Dewey (perpustakaan) dan mengembalikan buku pada tempatnya.
  2. mengenalkan jenis bacaan di perpustakaan seperti koleksi khusus dan koleksi umum (suplemen dan fiksi)
  3. mengetahui dan dapat menemukan kegiatan cerita fiksi serta membuat nomor panggil buku.
  4. mengenalkan panggilan buku dari berbagai cerita rakyat (398.2) dan biografi (921).
  5. memperkenalkan jenis-jenis buku dan membedakan koleksi fiksi dan non fiksi.
  6. mengenalkan majalah dan surat kabar dari segi terbitnya berapa kali, siapa penerbitnya, dll.
  7. bimbingan membaca dan mengarang mengenai sastra dan ilmu pengetahuan.
  8. mengenalkan kliping.
  • Materi kelas 4
  1. mengenalkan nomor panggilan sesuai dengan sistem Dewey.
  2. mengerti susunan nomor dengan sistem pembagian Dewey.
  3. mengurutkan nomor yang sederhana.
  4. dapat membedakan buku yang berisi biografi satu orang dan sekelompok orang (kategori sejenis).
  5. mengenalkan koleksi referensi (ciri-ciri, macamnya)
  6. mempelajari cerita khayal yang bersifat ilmiah dapat menjadi salah satu sumber ilmu pengetahuan.
  7. mengenalkan cerita petualangan mempunyai ketegangan, pertentangan dan aksi.
  8. menceritakan kembali sebuah cerita dalam gambar dan kalimat.
  9. mengenalkan bagaimana cara membaca peta, globe, atlas, dan bahan geografi.

10. membuat kliping, kegunaannya dan cara penyimpanan.

11.  bimbingan karya tulis ilmiah dasar.

  • Materi kelas 5
  1. membuat ringkasan buku fiksi (misal sejarah).
  2. studi banding antara dongeng rakyat dengan dongeng biasa.
  3. membuat catatan-catatan mengenai buku.
  4. membuat sinopsis.
  5. mengenalkan berbagai jenis referensi.
  6. menemukan/mencari sebuah tempat di atlas/peta.
  7. menemukan/mencari sebuah kejadian/nama di almanak atau buku tahunan.
  8. cara menggunakan koleksi referensi.
  9. cara menggunakan Audio Visual
  • Materi kelas 6
  1. mengadakan penelitian lebih lanjut tentang suatu ilmu atau fenomena yang sedang terjadi.
  2. mengenali kunci-kunci di dalam sebuah kalimat.
  3. membuat catatan-catatan (baik catatan kaki atau catatan biografi).
  4. membuat resensi/mereview buku dan mendiskusikan isi buku.
  5. membuat bibliografi yang sederhana.
  6. membuat karya tulis/penelitian sederhana.
  7. mengenalkan bagian-bagian dari buku fiksi (watak, isi cerita, susunan dan tema karangan).
  8. mempelajari bagaimana mempergunakan indeks daripada majalah yang sederhana.
  9. mengenalkan anotasi buku.

10. penelitian sederhana.

  1. Metode yang digunakan

Dalam pelaksanaan program pengajaran di kelas ini menggunakan suatu metode yaitu bercerita, drama, diskusi (kelompok atau panel), simulasi, praktek, maupun teori secara lisan dan tulisan.

  1. Alat peraga yang digunakan

Untuk mendukung proses pengajaran di kelas, pasti membutuhkan alat peraga agar materi yang disampaikan mampu diterima oleh siswa dengan baik. Alat peraga yang digunakan antara lain boneka, compact disc (CD), Slide/OHP, alat-alat simulasi (tetapi disederhanakan), dan bahan pustaka yang ada di perpustakaan, juga ruang perpustakaan itu sendiri.

  1. Hasil yang dicapai

Program pendidikan pemakai dengan sistem pengajaran di kelas ini diharapkan mampu meraih hasil yang memuaskan dan membanggakan untuk semua pihak. Adapun hasil yang ingin diperoleh antara lain :

  1. Siswa menjadi lebih mandiri dalam belajar.
  2. Siswa mampu memahami kegiatan perpustakaan, sehingga muncul perasaan ikut memiliki dan ikut aktif terlibat dalam kegiatan yang diadakan oleh perpustakaan.
  3. Menumbuhkan kecintaan anak pada buku, sekaligus mampu menumbuhkan dan meningkatkan minat baca menjadi budaya baca.
  4. Memudahkan proses kegiatan belajar mengajar di kelas.
  5. Hambatan

Dalam setiap pelaksanaan kegiatan tidak lepas dari hambatan. Begitu juga dengan pelaksanaan program pengajaran di kelas. Adapun hambatan itu adalah adanya siswa yang rewel, bandel, dan hiperaktif serta minta perhatian.

7. DAMPAK PENDIDIKAN PEMAKAI

Pendidikan pemakai akan berdampak positif, yaitu mampu memberikan pelayanan yang memuaskan (layanan prima), terbentuknya suasana kedekatan, komunikasi yang intensif dan efektif yang informal antara petugas dan pemakai. Jika demikian, maka di antara mereka akan saling membantu dan membutuhkan satu sama lain.

KESIMPULAN

Perpustakaan yang baik bukan saja yang dapat melayani pemakai secara efisien waktu, tetapi juga mampu membimbing, mengarahkan, dan memberikan konsultasi agar apa yang dibutuhkan pemakai dapat terpenuhi. Pendidikan pemakai merupakan langkah yang tepat untuk mencapai harapan tersebut. Kesuksesan pelaksanaan pendidikan pemakai tergantung perencanaan yang matang, tepat, efisien dan efektif. Semua kembali pada kita!

DAFTAR PUSTAKA

Majalah Ikatan Pustakawan Indonesia Volume 15 Nomor 3-4, 1994. Kemerosotan Mutu Pendidikan di Indonesia. Jakarta : Ikatan Pustakawan Indonesia.

Prosiding Seminar Sehari Layanan Pusdokinfo Berorientasi Pemakai di Era Informasi : Pandangan Akademisi dan Praktisi, 1996. Pendekatan Kognitif Dalam Perancangan dan Pemanfaatan Jasa Pusdokinfo. Depok : Program Studi Ilmu Perpustakaan, Program Pascasarjana, Universitas Indonesia.

Sutarno, N.S., 2004. Manajemen Perpustakaan : Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Samitra Media Utama.

______, 2005. Tanggung Jawab Perpustakaan : Dalam Mengembangkan Masyarakat Informasi. Jakarta : Panta Rei.

Vionariska, Chindy, 2006. Laporan Praktek Kerja Lapangan Pada Perpustakaan SD Al Hikmah Surabaya. Surabaya.

www.google.com

http://har-tanto.blogspot.com/2006/06/perlunya-menumbuhkan-reading-habit.html

http://72.14.203.104/search?q=cache:o_EkNhQICeUJ:library.its.ac.id/%3Fpilih%3Dlihat%26id%3D34%26PHPSESSID%3D10e0fcba1d37de93dafa9c1a404bbc70+pendidikan+pemakai+perpustakaan+sekolah&hl=id&gl=id&ct=clnk&cd=3

http://72.14.203.104/search?q=cache:p7KuxGnm8jQJ:www.pikiranrakyat.com/cetak/2005/0205/28/1105.htm+pendidikan+pemakai+perpustakaan+sekolah&hl=id&gl=id&ct=clnk&cd=4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s