Masalah Klasik Profesi Pustakawan : Catatan dari Rakerpus XVI 2010

Masalah Klasik Profesi Pustakawan : Catatan dari Rakerpus XVI 2010

Catatan dari Rakerpus XVI 2010

Bicara tentang masalah di bidang perpustakaan di Indonesia terlihat sangat banyak, dari masalah adanya organisasi-organisasi perpustakaan yang sudah di danai besar tapi bekerjanya sangat buruk sampai kepada masalah-masalah yang lain misalnya minim anggaran, penggunaan anggaran perpustakaan yang asal dan tidak tepat sasaran, banyaknya SDM pustakawan yang rendah, banyaknya ahli-ahli bidang perpustakaan yang lebih suka berkoar-koar tentang teori tapi minim aksi dan masih banyak lagi masalah yang lain. Tapi melihat berjuta masalah tersebut pustakawan dan orang-orang yang merasa peduli untuk terus memajukan perpustakaan di Indonesia tidak boleh putus asa dan berhenti. Masalah-masalah yang ada tersebut harus terus kita upayakan dan kita pecahkan secara bersama-sama tentunya dengan aksi nyata dan tidak hanya sebatas teori semata. Berikut ini merupakan salah satu artikel terkait masalah klasik di profesi pustakawan yang ditulis oleh Dra Ahyati Rahayu, Kepala Perpustakaan Unissula, Semarang yang dikutip langsung dari SuaraMerdeka.com

BUKU adalah jendela dunia, kuasai dunia dengan membaca, atau tiada hari tanpa membaca, merupakan sebagian dari slogan yang digunakan perpustakaan. Itu untuk memerankan diri sebagai salah satu lembaga yang berperan dalam perkembangan dan kemajuan pendidikan.

Namun sebagai bagian dari instrumen pendidikan yang juga bertanggung jawab secara kelembagaan dan moral dalam mencerdaskan bangsa, sampai hari ini tampaknya perpustakaan beserta tenaga pelaksana, yakni pustakawan, belumlah populer. Masih ada masalah klasik yang jadi bahan perbincangan di kalangan pustakawan dari waktu ke waktu, yakn profesi pustakawan selalu berkesan kalah dari profesi lain, seperti dokter, hakim, dan dosen.

Perpustakaan masih dipandang hanya sebagai tempat menyimpan buku yang sewaktu-waktu boleh dipinjam. Pustakawan pun masih berada dalam kondisi belum proaktif. Itu, misalnya, tercermin dari kalimat, “Ada pengunjung syukur, tidak ada pengunjung ya nganggur….”

Apalagi dalam praktik, banyak sumber daya manusia atau karyawan di lembaga pendidikan yang dianggap kurang berprestasi, dimutasikan ke perpustakaan. Atau terkadang sebelum menjalani masa pensiun, seseorang ditempatkan di perpustakaan.

Karena itu, tantangan bagi perpustakaan sekarang ini adalah melakukan sinergi dengan lembaga lain untuk memerankan fungsi perpustakaan secara maksimal.

Berkait dengan hal itu, dalam Keputusan Menpan Nomor 18 Tahun1988 tentang Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka Kreditnya, yang disempurnakan dengan Keputusan Menpan Nomor 132/KEP/M.PAN/12/2002, diikuti Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Provinsi, dan Daerah  Kabupaten/Kota, dinyatakan perpustakaan adalah urusan yang “wajib”, tidak boleh diabaikan.

Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dilanjutkan dengan PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, secara tegas dinyatakan berlaku universal bahwa perpustakaan dikehendaki sebagai “institusi pengelola koleksi, karya tulis, karya cetak, dan /atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka”.

Pemberdayaan Dengan berbagai peraturan itu, seharusnya perpustakaan dapat berperan aktif untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan kompetensi tenaga perpustakaan yang andal pula. Dalam Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 disebutkan “Pustakawan yaitu seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan”.

Dari Rakerpus XVI dan Seminar Ilmiah Nasional di Mataram, Nusa Tenggara Barat, 8-10 November lalu, saya mencatat beberapa poin penting. Misalnya, Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpustakaan Nasional/Ketua Umum PP Ikatan Pustakawan Indonesia, Supriyanto, menyebutkan perkembangan teknologi dan informasi saat ini membuat pustakawan dituntut memiliki keahlian khusus.

Perlu komitmen lewat kompetensi yang tinggi, mampu menjaring, menyaring, mengakses, mengeksplorasi, mengklarifikasi, mengkaji informasi, dan meneliti, yang bermuara pada upaya mempermudah “temu kembali” informasi yang diperlukan dan memenuhi harapan pemakai.

Bahkan pustakawan mampu membangun dan mengembangkan masyarakat cerdas dalam peran dan fungsi perpustakaan dan memajukan profesinya, meningkatkan kompetensi, karier, dan wawasan kepustakawanan. Berdasar hal itu, tak pada tempatnya profesi pustakawan dipandang sekadar sampingan atau “buangan”.

Sebab, pustakawan membangun kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan.

Jadi ada nilai tugas yang mulia karena mengemban tanggung jawab untuk memberikan pelayanan ke pemustaka, mengembangkan minat baca, serta memberdayakan koleksi perpustakaan.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s