Sinergi Keluarga, Sekolah, dan Perpustakaan dalam Upaya Membentuk Karakter Gemar membaca

Oleh Chindy Vionariska, A.Md-Pustakawan Perpustakaan Kabupaten Lumajang

minat baca sejak dini

Ilustrasi gambar: Kantor Perpustakaan Kab. Lumajang

Di Kabupaten Lumajang ini program ‘KF’ Keaksaraan fungsional telah gencar digarap secara terpadu bersama beberapa organisasi wanita hingga berakhir dan selesai. Kondisi ini menunjukkan bahwa semua masyarakat Lumajang telah memiliki kemampuan membaca. Ini memberi gambaran kepada kita bahwa masalah rendahnya minat baca masyarakat kita akan terselesaikan. Kita ketahui bersama bahwa minat baca masih menjadi masalah yang belum terselesaikan sampai saat ini, padahal telah banyak usaha yang dilakukan untuk “mengatrol” minat baca masyarakat. Dan ada kolerasi antara faktor kemampuan membaca dengan minat baca. Seseorang tidak akan bisa membaca, apalagi memiliki budaya baca apabila tidak bisa membaca atau buta aksara.

Bila seseorang sudah bisa membaca, seharusnya ia memiliki kebiasaan membaca. Akan tetapi di lingkungan kita ini kemampuan membaca seseorang bukan jaminan orang tersebut suka membaca. Hal ini disebabkan karena membaca belum membudaya. Lalu usaha seperti apa yang perlu dilakukan untuk menigkatkan minat baca masyarakat? Sangat disayangkan apabila kemampuan membaca masyarakat tidak diikuti oleh kebiasaan membaca karena membaca merupakan kegiatan multi manfaat.

Beberapa kegiatan yang bisa dilakukan adalah mensinergikan keluarga, sekolah, dan perpustakaan. Apa sesungguhnya peran keluarga dalam membangkitkan motivasi membaca dan bagaimana mensinergikannya dengan sekolah dan perpustakaan?

Peran Keluarga

Keluarga menjadi faktor dominan dalam pembentukan karakter serta kebiasaan seseorang. Keluarga menjadi media yang efektif untuk menumbuhkan suatu kebiasaan. Sehingga apabila dalam sebuah keluarga memiliki kebiasaan membaca, maka secara tidak langsung seluruh anggota keluarga dalam keluarga tersebut gemar membaca. Dengan kata lain, keluarga dapat dijadikan sebagai sarana pembinaan minat baca masyarakat. Dari kebiasaan membaca di tingkat keluarga inilah, kemudian berkembang menuju budaya baca masyarakat.

Pembinaan minat baca di lingkungan keluarga diawali dengan pembinaan minat baca anak. Pembinaan minat baca anak merupakan cara yang efektif dalam usaha meningkatkan minat baca menuju bangsa yang gemar membaca. Sejak usia dini anak-anak dikenalkan dengan kebiasaan membaca. Kebiasaan membaca di masa anak-anak ini akan terus terbawa hingga anak tumbuh dewasa.

Orang tua perlu menstimulus minat baca anak dengan menyediakan buku-buku atau bahan baca lainnya yang mampu menggugah minat anak untuk membaca. Selanjutnya orang tua perlu memberikan teladan dengan cara aktif membaca dan meluangkan waktu khusus untuk membaca setiap harinya. Anak-anak cenderung meniru perilaku orang tuanya yang dianggap  sebagai figur. Dengan keteladanan ini anak akan lebih termotivasi untuk membaca. Selain itu  keluarga juga perlu menetetapkan waktu khusus untuk membaca setiap harinya sehingga anggota keluarga memiliki jadwal membaca yang teratur.

Peran Sekolah

Sekolah menjadi institusi kedua dalam proses pembinaan minat baca setelah keluarga. Sekolah dapat mendukung proses pembinaan minat baca yang dilakukan keluarga selama ini. Melalui fungsi edukasi yang melekat pada sekolah serta perpustakaan yang dimiliki, sekolah dapat melakukan program pembinaan minat baca.

Apabila  hingga saat ini sekolah belum memiliki perpustakaan yang memadai, bisa membawa siswanya ke perpustakaan daerah atau kecamatan bahkan dihimbau untuk menjadi anggota perpustakaan. Dengan cara ini sekolah telah berupaya memaksimalkan pembinaan minat baca. Sekolah perlu pula mengimplementasikan pembiasaan membaca pada semua mata pelajaran dengan cara memberi tugas “one week one book” disamping kesibukan proses belajar di sekolah, mengerjakan PR, dan bermain.  Dengan demikian ada jadwal yang tertib untuk mengapresiasikan minat bacanya.

Banyak manfaat yang diperoleh dari membaca, salah satunya akan menunjang keberhasilan proses belajar peserta didik. Guru dapat merangsang minat baca siswa melalui tugas yang memotivasi siswa untuk membaca dan mengakses perpustakaan.

Selain itu pihak sekolah juga perlu membangun atau memperbaiki kondisi perpustakaan yang ada. Sarana layanan perpustakaan perlu terus dilengkapi, kualitas koleksi perlu ditingkatkan serta menyediakan pengelola yang bertanggung jawab penuh terhadap pengelolaan perpustakaan. saat ini banyak sekolah yang memanfaatkan guru sebagai tenaga pengelola perpustakaan, sehingga apabila guru bersangkutan mengajar maka perpustakaan tutup. Dengan memperbaiki kondisi perpustakaan sekolah maka akan meningkatkan daya tarik perpustakaan sehingga peserta didik akan meningkatkan frekuensi kunjungannya ke perpustakaan.

Kontribusi Perpustakaan Daerah

Usaha pembinaan minat baca yang telah dilakukan keluarga dan sekolah perlu didukung oleh eksistensi perpustakaan umum/daerah.  Perpustakaan umum merupakan institusi pembinaan minat baca bagi seluruh masyarakat tanpa membedakan status. Tua, muda, miskin atau kaya dapat memanfaatkan koleksi perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan sarana bacanya. Perpustakaan umum berperan sebagai institusi penyedia sarana baca bagi masyarakat. Minat baca tidak akan pernah terwujud tanpa ketersediaan sarana baca.

Perpustakaan umum/daerah terus berbenah guna mendukung upaya pembinaan minat baca. Pembenahan ini mencakup perbaikan kualitas koleksi, sarana layanan serta SDM perpustakaan. Kualitas koleksi perpustakaan baik dari segi kuantitas maupun kemutakhiran  terus ditingkatkan. Sarana perpustakaan juga dilengkapi termasuk dengan penyediaan mobil sebagai perpustakaan keliling.

Di samping itu di tiap kecamatan sudah pula didirikan perpustakaan umum kecamatan dengan sistem yang sama “komputerisasi” sehingga meningkatkan rasa nyaman pengguna perpustakaan ketika mengakses perpustakaan. Ada tiga kecamatan yang sudah memiliki perpustakaan yaitu Klalah, Pasirian, dan Yosowilangun. Sedangkan peningkatan kualitas SDM diperlukan agar perpustakaan dikelola oleh individu yang profesional di bidangnya sehingga mampu berkreativitas dalam pengembangan perpustakaan dan pembinaan minat baca masyarakat.
Untuk mewujudkan perpustakaan yang senantiasa menjaga kemutakhiran koleksi dan kenyamanan, memang bukanlah pekerjaan mudah dan murah. Harga sebuah perpustakaan berkualitas memang mahal. Untuk itu diperlukan dukungan pemerintah terutama pemerintah daerah untuk mengalokasikan dana yang cukup bagi pembangunan perpustakaan. Dengan dukungan pemerintah ini maka perpustakaan akan mampu berperan maksimal dalam pembinaan minat baca.

Apabila kondisi perpustakaan umum semakin membaik dan didukung partisipasi aktif  keluarga serta sekolah dalam pembinaan minat baca, maka secara perlahan minat baca masyarakat akan semakin meningkat. Dari tahun ke tahun kesadaran masyarakat untuk membaca akan meningkat pula, sehingga membaca akan menjadi kebutuhan bagi masyarakat kita. Ini terbukti dengan banyaknya pengunjung yang aktif membaca dan meminjam buku di perpustakaan daerah.  Dengan demikian maka tidak perlu lagi penetapan bulan September sebagai bulan gemar membaca karena setiap hari masyarakat sudah gemar membaca.



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s