Tuntutan Kartini Era Millenium

Family Chindy Vionariska

Family Chindy Vionariska

Besarnya tuntutan kebebasan perempuan di era millenium ternyata banyak menciptakan masalah baru yang belum pernah dihadapi oleh generasi pendahulu puluhan tahun yang lalu. Indonesia, sebagai sebuah Negara yang multikultur memiliki banyak kelompok atau lapisan perempuan yang masing-masing memiliki masalahnya sendiri. Lapisan tersebut tidak hanya dapat dipandang dari aspek kelas sosial atau ekonomi saja, namun juga melibatkan nilai-nilai budaya, adat istiadat dari berbagai etnis.

Perlahan tapi pasti, perempuan yang tadinya merupakan makhluk inferior dan berhubungan dengan urusan rumah tangga atau reproduksi semata, kini telah memegang pekerjaan di berbagai lapangan keilmuan. Sekarang kita dapat menemukan seorang perempuan yang bermatapencaharian sebagai sopir bus, guru, polisi bahkan pilot pesawat terbang. Penemuan baru di bidang teknologi semakin memperbesar keinginan perempuan untuk keluar dari urusan rumah tangga dan mengambil peranan yang lebih besar di tengah masyarakat. Perempuan di abad industrialisasi ialah perempuan yang memiliki multiple roles atau peran majemuk. Seorang perempuan dapat menjadi ibu dan ayah sekaligus, memainkan peran sebagai seorang direktur perusahaan, bahkan sebagai seorang tokoh keagamaan.

Meminjam istilah Emile Durkheim, kaum perempuan, sedang berada dalam kondisi anomie; masih menaruh rasa hormat yang tinggi terhadap budaya, tetapi gaya hidupnya sudah universal dan modern. Tampaknya, kaum perempuan memang harus mencermati secara serius terhadap kondisi anomie yang mau atau tidak, mesti dilaluinya. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana mewujudkan sosok perempuan yang tidak kehilangan identitasnya atau jati diri di tengah-tengah kuatnya arus transformasi budaya era millenium? Pertanyaan semacam itulah yang butuh jawaban serius. Artinya, di tengah fenomena pergeseran peran dari mono-peran ke dwi-peran, kaum perempuan ‘millenium’ tidak mengalami “keterkejutan” budaya yang justru akan makin menjauhkan figurnya dari sentuhan nilai ideal secara normatif sebagai kunci sukses hidup berumah tangga.

Mitos kanca wingking memang harus dibebaskan . Kaum perempuan dituntut untuk bisa tampil mandiri, dinamis, kreatif, penuh inisiatif , dan profesional dalam mengambil perannya di sektor publik. Meski demikian bukan berarti harus meningalkan “naluri’’ keibuan yang penuh sentuhan perhatian dan kasih sayang terhadap anak dan suami, lembut, hormat, etis, dan bermartabat tinggi. Tetapi lebih menunjukkan kiprah perempuan yang bisa memberikan partisipasi dan ikut andil dalam pembangunan di sektor publik . Bagaimana perannnya dalam peningkatan kompetensi SDM serta kompetisi yang sehat bersama laki-laki sebagai wujud dari konstribusinya di ranah publik.

Ikut berpatisipasinya perempuan untuk berperan di kalangan publik harus di hargai, karena mereka juga memiliki hak yang sama untuk memperoleh kedudukan akses dan pemerataan yang sama di mata publik . Yang masih perlu dipikirkan ialah kapabilitas dan kemampuan yang dimiliki semua perempuan bisa berpartisipasi di ranah publik , dalam kacamata sosial tidak ada pembatasan yang membelenggu, era millenium bisa menjadi lahan pembebasan bagi pergerakan perempuan tanpa melupakan keterikatan aturan norma sosial, hak dan kewajibannya sebagai seorang perempuan.

Kebebasan yang di harapkan dari perjuangan perempuan era millenium adalah pengakuan yang sama di mata laki-laki bahwa perempuan juga mampu tidak dipandang sebelah mata. Kartini masa kini adalah sosok Kartini yang bisa memberikan inspirasi bagi lingkungan sekitarnya , bertanggung jawab, berdedikasi tinggi untuk berusaha mewujudkan persamaan hak perempuan baik di sektor publik maupun sektor domestik . Kartini era millenium sangat jauh berbeda dengan Kartini masa lalu. Yang menjadikannya tetap eksis adalah perjuangan menggapai asa dalam kehidupan yang lebih egaliter.

Mirisnya nasib perempuan masa lalu, bisa menjadi pelajaran berharga bagi perempuan era millenium. Maka jangan lupakan sejarah perjuangan Kartini. Menjadi Kartini era millenium perlu membekali diri. Dengan pendidikan dan keahlian yang sesuai dengan tuntutan era. Pantang menyerah dan terus berusaha memajukan diri perlu dikembangkan untuk bisa menjadi perempuan hebat di era millenium.

Teknologi terbukti mampu membebaskan wanita dan mendorong emanisipasi di berbagai bidang, namun juga menyisakan pertanyaan besar akan sejauh mana batas kebebasan perempuan ini akan melebar. Dampak terburuk atas industrialisasi peranan perempuan ini adalah penyimpangan-penyimpangan sosial yang muncul beriringan dengan cepat.

Agar tidak terlalu terseret, perempuan dituntut untuk mampu mengontrol perannya secara seimbang, tidak hanya memupuk egoismenya melihat peran yang bisa melambungkannya ke langit saja, tetapi juga harus mampu melihat secara jeli peran yang paling dekat dengan dirinya, yaitu merangkul erat buah hati dengan penuh kasih sayang seraya mencerdaskan kader bangsa yang telah dilahirkannya untuk siap menyongsong MEA di era millenium. Maka bersyukurlah menjadi perempuan yang diberi kekuatan ganda dan kemuliaan oleh Sang Maha Pencipta. Selamat berjuang menjadi Kartini millenium yang hebat. { llk }

Note : tulisan ini juga dimuat di Majalah Suara PGRI edisi April 2015

Kartini

Kartini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s