KRATON, POTRET DESA POTENSIAL

Kraton, terletak di Kecamatan Yosowilangun Kabupaten Lumajang. Ia termasuk salah satu desa potensial. Ini terlihat dari beberapa hal. Semua jalan yang ada di desa ini sudah beraspal. Rumah-rumah penduduk tertata rapi dan warga masyarakat terlihat sangat peduli terhadap lingkungannya. Terbukti dengan kondisi lingkungan yang selalu bersih dan sehat. Untuk mengetahui kondisi desa ini, wartawan Majalah Sakinah, Z. Abidin menurunkan laporannya untuk pembaca.

Dilihat dari sisi ekonomi, masyarakat yang tinggal sekitar 25 Km arah selatan Kota Lumajang ini terlihat cukup mapan. Dapat dilihat dari kondisi rumah-rumah mereka, banyaknya toko dan warung makanan, pelayanan kesehatan masyarakat serta kesadaran akan pendidikan yang sangat tinggi. Tidak mengherankan jika beberapa tahun terakhir Desa Kraton sering dikunjungi pejabat, baik dari Jawa Timur maupun dari luar Jawa Timur.

Desa berpenduduk 2.526 jiwa, kini dipimpin seorang ibu berusia 55 tahun, bernama Tatik Susantie. Ia mengemban amanah untuk melanjutkan kepemimpinan Bpk. Sujiadi, yang meninggal dunia setelah menjadi kepala desa selama 8 bulan. Praktisnya, sejak 15 September 2014 lalu, ibu yang juga sekretaris desa ini menjadi Pjs Kepala Desa. Walau hanya sementara, namun ibu dari dua putra ini tetap bersemangat memajukan desanya. Bersama perangkatdesa, pengurus BPD, LKMD, PKK dan unsur kemasyarakatan lainnya ia membangun warga Kraton.

“Saat ini kami melayani masyarakat Kraton bersama 4 orang perangkat desa. Alhamdulillah, walau hanya 4 orang perangkat desa, kami mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan sebaik-baiknya,” tutur Ibu Tatik Susantie. Lebih jauh ia menjelaskan dengan semangat kebersamaan dan kerja keras yang berorientasi pada pelayanan terbaik kepada masyarakat, Desa Kraton seringkali mendapat predikat terbaik tidak saja di Kecamatan Yosowilangun, di Kabupaten Lumajang tetapi juga di Jawa Timur.

Desa Siaga dan Prestasi

Salah satu predikat terbaik itu adalah menjadi Desa Siaga percontohan sejak tahun 2006. Terkait dengan desa Siaga, Kader Penggerak Desa Siaga, Dra.Hj. Lilis Pujaharwati, menjelaskan bahwa awalnya Kecamatan Yosowilangun ada tiga desa yang menjadi desa Siaga yaitu Tunjungrejo, Wotgalih dan Kraton. Perkembangan selanjutnya kedua desa tersebut tidak aktif dan yang aktif hanya Desa Kraton.

Menurutnya ada empat kategori desa Siaga yaitu, Siaga Pratama, Madya, Mandiri dan Purnama. Untuk meraih predikat Desa Siaga Mandiri, menurut Ibu Lilis ada 8 tahapan yang harus dilaksanakan; Pertama, tersedianya forum masyarakat desa yang bertugas membahas kesehatan. Kedua, pelayanan kesehatan dasar mudah. Ketiga, ada pos kesehatan desa. Keempat, ada Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM). Kelima, tersedianya kader aktif minimal 7 orang setiap Gerbangmas. Keenam, adanya dukungan dana dari pemerintah desa dan masyarakat. Ketujuh, ada peran organisasi kemasyarakatan dan adanya pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.

Terkait dengan upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM), bu Lilis menjelaskan bahwa di Kraton terdapat beberapa kegiatan meliputi; gerakan membangun masyarakat (Gerbangmas) 4 kelompok dan masing-masing memiliki gedung pertemuan, Posyandu Lansia berjumlah 125 orang, Sanitasi total berbasis masyarakat dan donor darah yang dilakukan secara rutin setiap 3 bulan sekali. “Untuk kegiatan donor darah, Desa Kraton mendapat penghargaan dari PMI Kabupaten Lumajang pada tahun 2013 karena dinyatakan paling aktif,” tutur Bu Lilis.

Menyinggung tentang peran serta Organisasi Kemasyarakatan, bu Lilis menjelaskan kepedulian ormas tersebut diwujudkan di beberapa kegiatan antara lain pemeriksaan kesehatan gratis, santunan kepada kaum dhuafa dan penyuluhan kesehatan. Untuk santunan kepada kaum dhuafa, biasanya berupa pemberian sembako setiap enam bulan sekali kepada sekitar 250 orang. “Ini secara rutin dilakukan oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah,” jelas Bu Lilis.

Dari berbagai kegiatan yang dilakukan ini, Desa Kraton seringkali mendapat prestasi baik di tingkat kabupaten maupun provinsi. Prestasi itu antara lain; pada tahun 2010 menjalin kemitraan dengan LSM Spectra dan Unilever dan terpilih sebagai desa sehat terbaik se Kabupaten Lumajang. Pada tahun yang sama, Dra. Hj. Lilis Pujaharwati, bendahara Desa Siaga, terpilih sebagai Kader Penggerak Kesehatan terbaik 3 Jawa Timur.

Pada tahun 2011 kader Tim Relawan Masyarakat Gersikpama ( Gerakan Sikat Gigi Pagi dan Malam) meraih Juara 1 di tingkat Kabupaten Lumajang dan Provinsi Jawa Timur. Prestasi terakhir yang diraih desa Kraton adalah nomor 5 pada lomba Desa Siaga Aktif tingkat Jawa Timur yang diselenggarakan pada tahun 2014.”Kami bersyukur karena Desa Kraton masuk lima besar. Hal ini mendorong kami untuk terus membangun masyarakat Kraton agar lebih maju lagi,” tutur Bu Tatik Susantie.

Dari beberapa prestasi yang diraih tersebut, menjadikan Desa Kraton sebagai salah satu tujuan kunjungan para tamu untuk melakukan studi banding. Menurut catatan yang sempat SAKINAH tulis ada beberapa kunjungan yang dilakukan oleh tamu-tamu, baik dari Jawa maupun luar Jawa bahkan luar negeri. Tamu-tamu tersebut antara lain; dari Pemerintah kabupaten Sidoarjo, dari Kalimantan, pada bulan Maret lalu dari Provinsi Lampung. Bahkan juga pernah ada kunjungn mahasiswi dari Amerika Serikat untuk melakukan studi banding.

 

PERPUSTAKAAN

Satu lagi yang menarik, Kraton, desa pinggiran yang potensial ini, ditunjuknya sebagai inspirator desa tetangga dalam pengelolaan Perpustakaan Desa berbasis IT. Menurut catatan yang ada di Kabupaten Lumajang ada 8 desa yang dipilih untuk mengelola perpustakaan desa, salah satunya adalah Kraton.”Perpustakaan kami awalnya merupakan Taman Baca Masyarakat yang dikelola oleh ibu-ibu PKK. Karena pengelolaannya dianggap baik maka pada tahun 2014 perpustakaan kami mendapat bantuan 1000 buku dan tiga unit perangkat internet,” tutur Bu Tatik.

Sementara itu, Penanggung Jawab Perpustakaan Desa Kraton yang bernama “Harapan Bangsa”, Pak Subur, menjelaskan bahwa perpustakaan yang ia kelola memiliki tiga fungsi yaitu pemberian pelayanan baca buku, pelayanan internet bagi masyarakat dan menjadi pusat kegiatan pembelajaran masyarakat. Terkait dengan keberlangsungan perpustakaan, ia menuturkan ada 3 sumber dana yang ia peroleh dan kelola. Pertama dari advokasi pihak swasta, sebagian dana Alokasi Dana Desa (ADD) dan swadaya masyarakat.

“Alhamdulillah, kami bersyukur kepada Allah SWT, ternyata respon masyarakat terhadap keberadaan perpustakaan ini sangat tingggi,” tegas Pak Subur. Seperti diakuinya, tingginya respon masyarakat tersebut dapat dilihat dari antusiasme masyarakat untuk memanfaatkan perpustakaan sebagai tempat mencari pengetahuan. Selain itu, sumber dana yang berasal dari swadaya masyarakat ini sangat tinggi. “Perpustakaan kami banyak dimanfaatkan oleh para pelajar, ibu-ibu dan para guru”, tambahnya.

Terkait dengan pengembangan perpustakaan desa, ia berharap bahwa desa tetangga sebisa mungkin merintis pendirian perpustakaan desa. Ini sangat penting artinya dalam upaya mendorong semangat baca masyarakat. “Ada beberapa desa berharap perpustakaan berbasis IT ini bisa dikembangkan di desanya, kami berharap pihak Telkom sesegera mungkin merespon keinginan warga desa itu agar bisa mengakses internet,” harapnya. (Z. Abidin)

(Sumber : Majalah Penyejuk Jiwa SAKINAH Bacaan Keluarga Muslim Indonesia Edisi 18 Juni 2015)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s