WISATA BUDAYA BACA YOGYAKARTA

Komunitas membaca yang menyediakan beragam ruang/tempat dan bahan bacaan, hadir semakin marak di berbagai daerah. Termasuk Yogyakarta, sebagai kota budaya dan kota pendikan. Kehadiran taman bacaan masyarakat (TBM) dan perpustakaan-perpustakaan komunitas seolah menjawab kegelisahan masyarakat pencinta baca yang selama ini dinilai rendah minat baca.

Nama-nama yang hadir semakin beragam dan menarik seperti Sudut Baca, Cafe Baca, Taman Bacaan, Stasiun Buku, Rumah Buku, Sanggar Baca, Pondok Baca yang semua mengacu pada wadah Taman Bacaan Masyarakat (TBM) versi Direktorat Pendidikan Masyarakat (Dikmas) Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Atau perpustakaan Khusus (Privat library) versi Perpustakaan Nasional (Perpusnas).

Saat ini ada berbagai kelompok yang giat berkontribusi mendorong “minat baca” masyarakat : seperti Diskusi Sastra, Sanggar bermain dan belajar, komunitas penggiat industri perbukuan, klub perfilman, klub menulis, toko buku komunitas, komunitas aneka hobi, paguyuban para pensiunan, mahasiswa pencinta sastra, sampai penganut mode/fashion tertentu. Sajiannya pun semakin beragam dan mengikuti trend dengan menyandingkan kegiatan membaca dengan gaya hidup (life style), dan isu-isu terhangat.

Sangat disayangkan gema keberadaan taman-taman bacaan ini masih terbatas pada komunitasnya sendiri. Padahal keberadaannnya taman bacaan menjadi ini menjadi salah satu solusi masyarakat untuk mengakses pengetahuan dan pendidikan secara mandiri. Karena fungsi taman bacaan seperti halnya perpustakaan pada dasarnya adalah sebagai tempat edukasi, rekreasi, informasi dan sosialisasi. Dan tentu saja taman bacaan / perpustakaan ini memiliki fungsi sebagai tempat penyimpanan aneka budaya manusia lewat tulisan.

Latar belakang para penggiat minat baca di TBM/perpustakaan sangat beragam dan mewarnai tampilan taman bacaan yang dikelolanya. Sebagai tempat yang menawarkan membaca yang asyik, keberagaman tampilan dan sajian ini tentunya sangat menguntungkan masyarakat pecinta baca. Wanita yang menjadi penggiat taman baca/perpustakaan juga tidak sedikit. Hal ini kemungkinan karena wanita memiliki ketekunan dan memiliki naluri untuk menjadi penyebar pengetahuan.

Atas dasar fakta-fakta di atas, dalam rangka memaknai Hari Kartini, 21 April, Hari Buku sedunia (World Book day) tanggal 23 April dan peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei, penulis bersama penggiat taman bacaan perempuan Jawa Barat Santi Susilawati menjelajah Yogyakarta. Pemilihan DIY sebagai tujuan wisata taman baca ini karena DIY merupakan salah satu kota pendidikan dan pusat budaya yang kaya komunitas baca. Keterbatasan waktu membuat tulisan ini hanya menjadikan 3 (tiga) tempat membaca yang disinggahi yang kesemua dinahkhodai para wanita luar biasa. Ketiga nya memiliki segmen beragam dan kekhasan masing-masing sesuai latar belakang pengelola.

T

TBM CAKRUK PINTAR

Taman baca masyarakat (TBM) Cakruk Pintar adalah taman baca yang memadukan konsep “cakruk”  dengan “taman baca”. Sehingga memiliki keunikan tersendiri. Selain itu, TBM ini juga mempunyai kekayaan alam yang masih asri dan alami, sehingga TBM ini sangat ramah lingkungan dan memasyarakat. Demikian tertulis pada leaflet yang diterima penulis saat mengunjungi TBM yang terletak di desa Caturtunggal Nologaten Yogyakarta dibawah kepemimpinan Rumi Astuti S.Pd.

Diluar standar umum pelayanan taman bacaan membaca, meminjam dan mengembalikan buku, Cakruk Pintar memiliki puluhan kegiatan lain sebagai penunjang, diantaranya : launching buku baru, bedah buku, simaan Al Quran, diskusi, keterampilan berbasis buku dan kegiatan lain yang menunjang motivasi masyarakat untuk membaca.

Cakruk pintar berdiri sejak tahun 2004 di bawah naungan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Suka Catur Tunggal. Cakruk sendiri menunjukan tempat berkumpul atau nongkrong. Pengelola berharap dengan nongkrong mencari ilmu di tempat ini diharapkan masyarakat cerdas, pintar dan berdaya. Untuk menghidupi taman bacaan sendiri (yang memang digratiskan) TBM Cakruk pintar memiliki usaha lain di depan TBM dan usaha budi daya ikan di bagian bawah dan belakang TBM.

Saat ini ada usaha baru yang berkenaan dengan budaya baca di Cakruk Pintar yakni; Wisata literasi yang dipandu langsung oleh Pembina TBM Cakruk Pintar DR Muhsin Kalida. Tujuan utama wisata taman bacaan ini, sementara ke negeri jiran Malaysia. Secara berkala masyarakat pecinta taman baca yang membutuhkan penyegaraan di ajak menimba ilmu tentang penulisan dan perbukuan sambil berwisata. Untuk progam ini tentu saja dikenakan biaya tertarik? Silahkan hubungi pengelola.

Perpustakaan  EAN

Perpustakaan yang sangat kental dengan kajian budaya. Tidak mengherankan karena dari nama sendiri sudah mengacu pada tokoh sentralnya yaitu budaya nasional Emha Ainun Nadjib (EAN). Perpustakaan ini soft  openingnya dimeriahkan berbagai diskusi budaya tanggal 7-9 April 2013 lalu. Hingga saat ini konsisten menjadikan diskusi  buku koleksi perpustakaan  EAN sebagai unggulan program. Kehadiran para sastrawan, seniman, budayawan dan tokoh besar dalam dan luar negeri juga menjadi pada acara-acara EAN terutama kalangan mahasiswa.

“Hal lain yang menjadikan EAN berbeda dari perpustakaan lain adalah pentas seni islami” demikian dikatakan oleh Nadlroh as Sariroh ( Nadlotussariroh) pengurus EAN.

Kekayaan pustaka EAN memiliki kekhasan yang sulit ditiru perpustakaan lain adalah terkumpulnya berbagai dokumen cetak sejak tahun 1970-an. Bukan hanya buku atau artefak lain tetapi juga tiket-tiket bis yang menggambarkan perjalanan literasi penggagasnya disamping terkumpulnya lebih dari 2500 judul buku berkualitas dalam dan luar negeri.

MATA  AKSARA

Heni Wardatur Rohmah (penulis biasa memanggilnya Heni WR), 38 thn. Wanita aktif istri pengusaha muda Nuradi Indra Wijaya ini memutuskan mengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Mata Aksara sepenuh hati setelah memilih mengundurkan diri sebagai tenaga administrasi Pasca Sarjana UGM. Bukan pilihan yang gampang memang, mengingat dunia bacaan bukanlah lahan bisnis tapi bentuk kegiatan sosial bagi lingkungan.

Kerja keras Heni WR menjadikan Mata Aksara, taman bacaan yang terletak di jl. Kaliurang Km 14 Tegalmanding Ngemplak DIY ini menjadi salah satu rujukan para pengelola TBM tanah air yang melakukan studi banding ke kota budaya Yogyakarta. Pengalaman kerja Heni WR di dunia kampus, juga menjadikan Mata Aksara menjadi tempat riset (penelitian) bagi mahasiswa yang menyusun skripsi maupun thesis dari berbagai kampus di Yogyakarta.

Apa yang bisa kita dapat di Mata Aksara ? Banyak hal : mulai keterampilan berbasis buku, pagelaran seni daerah, diskusi, dan lain-lain.” Apa yang loe mau gue bisa sediakan” kata pemenang Apresiasi PTK PAUDNI IY 2012 itu. Prestasi lain yang diraih Mata Aksara adalah TBM Kreatif 2012 versi Kemendikbud dan Anugrah Pustaka Bhakti dari badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD)  DIY 2012

Menjelajah taman bacaan di Yogyakarta menambah keyakinan kota ini istimewa dalam hal budaya, termasuk budaya bacanya. Tak berlebihan jika masyarakat Indonesia masih menjadikan Yogya sebagai tujuan belajar bagi putri-putrinya. Karena banyaknya perguruan tinggi disini ditunjang dengan tersebarnya taman-taman bacaan serta perpustakaan berkualitas yang dapat diakses warga hampir tanpa biaya. Jika fasilitas telah tersedia, masihkah menggelorakan minat baca kepada masyarakat ini sebuah kesulitan? Tugas kita bersama mengkampanyekan gemar membaca pada masyarakat.***.

Sumber : Majalah Penyejuk Jiwa SAKINAH Bacaan Keluarga Muslim Indonesia Edisi 18 Juni 2015

Posting : Chindy Vionariska, A.Md

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s